Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Januari 2019 | 02:03 WIB

Awali 2019, Bea Cukai Sodorkan CEISA 4.0

Rabu, 9 Januari 2019 | 20:20 WIB

Berita Terkait

Awali 2019, Bea Cukai Sodorkan CEISA 4.0
(Foto: BeaCukai)

INILAHCOM, Jakarta - Mengawali 2019, Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai (IKC) mengadakan pelantikan Jabatan Fungsional Pemeriksa Bea dan Cukai. Pelantikan ini bukan sekadar seremoni kegiatan di awal tahun, melainkan bentuk optimisme penguatan dan penyegaran bagi Bea Cukai khususnya pada Direktorat IKC, dengan menambahkan rangkaian sharing session.

Kegiatan ini mengambil tema Kesiapan DJBC dalam Menghadapi Era Distruptif di Bidang Kepabeanan dan Cukai melalui CEISA 4.0. IKC menyadari bahwa awal tahun adalah awal di mana penguatan pondasi perlu dilakukan terutama pada Sumber Daya Manusia dan teknologi-nya. Jabatan fungsional dianggap penting dalam menjawab tantangan Industri 4.0. Sehingga Bea Cukai perlu memetakan posisi stuktural dan fungsional.

"Orang struktur ada, untuk menguasai organisasi secara struktural. Sedangkan orang spesialis/fungsional harus ada, untuk mengembangkan passion mereka pada bidangnya. Dengan begini kita memiliki expertis pada beberapa bidang," kata Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/1/2019)

Dirjen Bea Cukai juga mendorong Direktorat IKC untuk maksimal dalam mengembangkan model Smart Customs, serta terlibat dalam semua kebijakan dan proses bisnis. Direktorat IKC, lanjut Heru, harus menyiapkan langkah hingga 2025 bahkan 2040 sehingga Bea Cukai mampu menjadi instansi kepabeanan yang sejajar dengan institusi kepabeanan negara-negara maju.

"Direktorat IKC bukan lagi supporter melainkan enabler dan key-driver, meninggalkan permintaan pembangunan aplikasi dengan rumusan atau prosedur belum maksimal. Direktorat IKC harus mampu meninggalkan masa-masa pada seperti itu di tahun 1990, di mana Direktorat IKC masih dalam bentuk Puslatasi," ujar Heru.

I Made Wiryana, narasumber dalam acara tersebut, menyatakan bahwa Direktorat IKC harus mampu menerjemahkan prosedur bisnis menjadi sebuah aplikasi yang "MAHA-BISA". "Inilah yang harus menjadi pertimbangan, bahwa Direktorat IKC harus sering terlibat dalam diskusi terkait kebijakan dan proses bisnis sejak awal. Selain mendapatkan ilmu yang baru, IKC akan mendapatkan dasar atau akar permasalahan yang terjadi pada sebuah proses bisnis. Sehingga solusi yang diciptakan akan lebih cepat dan detil," ungkap Made.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Informasi dan Teknologi, Bobby Achirul Awal Nazief menyatakan bahwa Bea Cukai, khususnya Direktorat IKC harus dapat berkaca dan belajar pada salah satu transportasi online. "Sebuah aplikasi harus memiliki inovasi dalam menu-menunya, sehingga masyarakat akan merasa 'butuh' akan aplikasi tersebut. Namun, tidak mengesampingkan kehandalan aplikasi itu sendiri," ungkap Bobby.

"Tentu saja ini adalah tantangan dan pengetahuan baru untuk IKC siap mendeliver CEISA 4.0 yang dibutuhkan dan 'handal'. CEISA 4.0 harus menjadi produk yang mampu menjawab tantangan kebutuhan sesuai tren Industri 4.0. Maka tugas IKC harus mampu merumuskan proses bisnis, integrasi, serangkaian prosedur dan aturan dalam tranformasi digital. IKC harus mampu menciptakan sistem yang secure dalam pencegahan dan pendeteksi akses dari luar," tambah Bobby. [*]

Komentar

x