Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Januari 2019 | 02:21 WIB

Bisnis Properti 2018 Lesu, Apartemen tak Laku

Kamis, 10 Januari 2019 | 02:29 WIB

Berita Terkait

Bisnis Properti 2018 Lesu, Apartemen tak Laku
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang 2018, bisnis properti di tanah air terlihat lesu, khususnya apartemen. Pemilik modal naga-naganya lebih memilih memborong obligasi atau deposito, ketimbang investasi properti.

Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto dalam paparan di Jakarta, Rabu (9/1/2019), menjelaskan, salah satu faktor yang membuat rendahnya minat investasi hunian apartemen, adalah imbal hasil yang tidak lebih besar dibandingkan produk surat berharga (obligasi) dan deposito.

"Kami mencari tahu kenapa penjualan apartemen tidak bagus. Ternyata produk investasi lain seperti SBR004 imbal hasilnya 7,10 persen, ORI 015 imbal hasilnya 7 persen, deposito yang paling mudah diakses masyarakat juga sebesar 6,5 persen. Dibandingkan dengan apartemen hanya 5,5 persen karena harga sewanya belum naik, bahkan cenderung terkoreksi," jelas Ferry.

Ferry mengakui, imbal hasil investasi apartemen, memang turun drastis yakni sebesar 10,2% pada 2013 menjadi hampir separuhnya pada 2018.

"Dibandingkan ritme deposito yang cenderung stabil, risikonya jauh lebih rendah (deposito) dibandingkan apartemen. Apartemen ini sewanya juga rendah dan belum tentu juga tersewa karena permintaan dari ekspatriat juga melambat," imbuhnya.

Kecenderungan masyarakat yang saat ini lebih memilih menabung, juga menjadi faktor pendorong rendahnya penjualan apartemen.

Meski demikian, impelentasi kebijakan Loan to Value (LTV) yang diberlakukan pemerintah tetap mendapat apresiasi karena dapat mendorong penjualan hunian vertikal tersebut.

Pada 2019, Ferry memproyeksi suplai hunian apartemen akan terus tumbuh. Namun, penyerapan kemungkinan baru akan mulai aktif pada semester II-2019 "Orang-orang masih akan was-was akan Pemilu dan suku bunga juga masih tinggi. Tapi masih ada peluang dari relaksasi LTV dan penurunan PPnBM (untuk dongkrak penjualan)," pungkasnya. [tar]

Komentar

x