Find and Follow Us

Kamis, 25 April 2019 | 08:07 WIB

DMO Batu Bara 2019 Sebesar 128 Juta Ton

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 10 Januari 2019 | 20:24 WIB
DMO Batu Bara 2019 Sebesar 128 Juta Ton
Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merencanakan produksi batu bara pada tahun 2019 sebesar 479 juta ton. Angka ini turun dari sebelumnya di tahun 2018 sebesar 485 juta ton.
Demikian disampaikan Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Kamis (10/1/2018). "Rencana produksi batu bara tahun 2019. Rencana produksi batubara nasionl tahun 2019 sebesar 479,8 juta ton," kata dia.
Namun, kata dia, angka ini belum pasti. Ke depan peluang penambahan produksi batu bara, masih terbuka. Yakni sewaktu revisi Rancangan Kerja Anggaran Biaya (RKAB) pada Juli 2019. "(Jumlah) Ini sementara, karena RKAB belum ditetapkan," kata dia.
Nah, dari jumlah produksi ini, lanjut dia, akan dialokasikan sebesar 128 juta ton untuk kebutuhan daam negeri (domestic market obligation/DMO). Angka ini sama dengan 26,68% dari 479,8 juta ton. Jika menilik jumlahnya, maka DMO mengalami kenaikan dari sebelumnya 25%."Rencnaa produksi batubara 2019 479,8 juta ton, DMO batu bara 128 juta ton," kata dia.
Sekedar diketahui, Harga Batu Bara Acuan (HBA) pada Januari 2019 sebesar US$92,41/ton. Harga ini turun tipis bila dibandingkan pada bulan Desember 2018 senilai US$92,51/ton.
Faktor yang menjadi turunnya HBA pada Januari 2018 disebut karena kebijakan Pemerintahan China yang membatasi impor batu bara.
Kementerian ESDM menetapkan Harga Batu bara Acuan (HBA) Januari 2019 sebesar US$92,41/ton. Harga tersebut sedikit terkoreksi dibandingkan HBA di Desember 2018 sebesar US$92,51/ton.
Kebijakan Pemerintahan Tiongkok yang membatasi impor batu bara menjadi penyebab terkoreksi harga di awal 2019 ini.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan mengatakan, penurunan harga tidak signifikan lantaran hanya US$0,1/ton saja.
"HBA Januari ditetapkan US$92,41/ton," kata Agung di Jakarta, Kamis (3/1/2018).
Agung menerangkan, pengaruh kebijakan China pembatasan impor mempengaruhi HBA karena pasokan global berlebih. Tapi permintaan batu bara berkutang. Tentu ini yang mempengaruhi harga.
Diamenjelaskan formula HBA ditetapkan Kementerian ESDM berdasarkan index pasar internasional. Ada 4 index yang dipakai yakni Indonesia Coal Index (ICI), New Castle Global Coal (GC), New Castle Export Index (NEX), dan Platts59. Adapun bobot masing-masing index sebesar 25% dalam formula HBA.
"Kebijakan Pemerintah Tiongkok yang mempengaruhi harga," ujarnya.
Berdasarkan catatan terkoreksinya harga batu bara di awal 2019 lebih rendah ketimbang di awal 2018. Pasalnya di Januari tahun lalu itu HBA ditetapkan sebesar US$95,54/ton. Sementara dipenghujung 2017 HBA sudah menembus level US$100/ton.

Komentar

x