Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 27 Maret 2019 | 06:50 WIB

Menteri LHK: Tiga Hal Penting Pemulihan Bencana

Senin, 14 Januari 2019 | 20:47 WIB

Berita Terkait

Menteri LHK: Tiga Hal Penting Pemulihan Bencana
(Foto: KementerianLHK)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menegaskan tiga hal penting dalam upaya pemulihan bencana lingkungan. Yakni pengurangan risiko dan ketahanan terhadap bencana (disaster risk reduction and resilience); respon/tanggap darurat (emergency response); serta pemulihan awal dan pemulihan jangka panjang (early recovery and recovery).

"Dampak dari bencana alam dapat menimpa manusia dan lingkungan. Bisa jadi manusia menjadi penyebab bencana lingkungan, atau sebaliknya lingkungan memberikan bencana kepada manusia. Untuk itu kita harus mereduksi risiko bencana, merespons dengan cepat, dan mempersiapkan pemulihan awal serta antisipasi dampak lebih lanjut yang terkadang lebih berbahaya bagi manusia maupun lingkungan," ucap Menteri Siti usai rapat bersama jajaran KLHK, BMKG, BNPB, BPPT, serta perwakilan PBB bidang lingkungan (United Nations Environment), di Jakarta, kemarni.

Pada pengurangan risiko bencana, Menteri Siti mengingatkan bagaimana pengelolaan ekosistem dan sumberdaya alam akan mampu mengurangi resiko bencana. Begitupun sebaliknya, manusia juga harus dapat mengukur dan memonitor bencana terhadap kerusakan ekosistem dan sumberdaya alam.

Melangkah ke fase selanjutnya dalam upaya pemulihan bencana lingkungan adalah tanggap darurat dengan memberikan respon yang cepat. Menteri Siti memandang para ahli lingkungan harus dapat berkontribusi dalam memberikan respon terhadap lingkungan dan manusia dari sebuah bencana. "Tidak hanya memetakan potensi bencana, namun para ahli juga dapat berkontribusi paska bencana untuk mengurangi berbagai resiko," ucap Menteri Siti.

Terakhir, pemulihan awal dan pemulihan jangka panjang. Tujuannya adalah membangun dan memulihkan kembali manusia dan lingkungan menjadi lebih baik setelah bencana.

Menteri Siti mencontohkan, sering kali perlu mengantisipasi hal yang lebih buruk saat bencana telah berhenti. "Misalnya bagaimana kita merespon dan memulihkan sebuah lokasi bencana yang ternyata disitu juga terdapat banyak pabrik kimia. Jika tidak direspon dengan baik tentu menjadi ancaman serius bagi manusia dan lingkungan dalam jangka panjang."

Oleh sebab itu, Menteri Siti meminta seluruh jajaran di KLHK dan kementerian/lembaga terkait bencana lingkungan untuk saling bersinergi dalam pemulihan bencana alam. Diperlukan inventarisasi teknologi dan sumberdaya yang dimiliki oleh KLHK, BMKG, BNPB, BPPT serta LAPAN dan kemudian diintegrasikan secara bersama.

Koordinator Bencana dan Konflik UN Environment Asia Pasifik, Lisa Guppy yang turut hadir pada rapat tersebut menyampaikan bahwa PBB akan mensupport pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kapasitas yang telah ada. "Indonesia adalah prioritas regional UN Environment mengingat potensi bencana yang sangat tinggi di negara ini," kata Lisa.

Kantor Pusat Regional UN Environment untuk bencana alam yang berada di Bangkok, Thailand memiliki berbagai data, hasil studi, teknologi, serta program strategis untuk mitigasi dan adaptasi bencana. "Kami memiliki pengalaman bencana yang terjadi di Fukuoka, Jepang yang mengalami bencana gempa bumi, kemudian disusul tsunami, dan terakhir adalah resiko kebocoran pusat reaktor nuklir. Tentu berbagai data dan pengalaman yang kami miliki akan kami bagikan kepada Indonesia," ujar Lisa Guppy. [*]

Komentar

x