Find and Follow Us

Kamis, 22 Agustus 2019 | 15:32 WIB

Berburu Rente Meninggi, Bobol Sudah Ekonomi

Oleh : Herdi Sahrasad | Kamis, 17 Januari 2019 | 11:11 WIB
Berburu Rente Meninggi, Bobol Sudah Ekonomi
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Praktik perburuan rente yang gila-gilaan telah merusak ekonomi Indonesia. Bayangkan, RI menjadi pengimpor gula terbesar di dunia menjelang Pemilu/Pilpres ini, sementara neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2018, mengalami bobol ekonomi dengan defisit US$8,57 miliar. Ada apa?

Ekonom FEUI Faisal Basri mengingatkan publik bahwa impor beras Januari-November 2018 juga melonjak sangat tajam, sebanyak 2,2 juta ton, tertinggi selama pemerintahan Jokowi-JK.

Menurutnya, menjelang pemilu, tiba-tiba Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di Dunia. "'Praktek rente gila-gilaan seperti ini berkontribusi memperburuk defisit perdagangan,"' tegas Faisal. Saat ini defisit transaksi berjalan mencapai lebih US$8 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2018 mengalami defisit US$8,57 miliar. Defisit itu menjadi yang terbesar, sejak BPS mencatat neraca perdagangan pada 1975. Para ekonom sudah mengingatkan Jokowi, bahwa ekonomi itu bukan hanya soal infrastruktur. Ekonomi menyangkut soal daya beli, lapangan pekerjaan dan neraca keuangan.

"BPS telah mengumumkan, ini defisit perdagangan paling payah. Pak Jokowi, ekonomi itu bukan hanya soal infrastruktur, ekonomi itu juga soal daya beli, pekerjaan, neraca keuangan," kata ekonom senior Rizal Ramli .

Faisal Basri yang juga ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), berpendapat untuk memulihkan defisit transaksi berjalan, pemerintah mengeluarkan beberapa strategi pertahanan. Mulai dari membatasi impor 900 komoditas, meningkatkan produksi biodiesel 20 persen (B20), meminta eksportir memulangkan devisa hasil ekspor, menumbuhkan ekspor, hingga menggenjot sektor pariwisata.

Tapi strategi pemerintah kurang tepat karena lebih banyak bertahan, sedangkan strategi menyerang melalui upaya peningkatan ekspor tidak dipersiapkan dengan matang. Sejauh ini, pelonggaran izin impor komoditas yang dilakukan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mendorong bobolnya ekonomi Indonesia saat ini.

"Indonesia banyak kebobolan karena kebijakan impor yang dimudahkan oleh Pak Enggar. Tadinya ada rekomendasi, sekarang tidak ada, jadi seperti air bah sekarang (impornya)," ucap Faisal

Faisal menilai kebijakan ekonomi pemerintahan saat ini terlalu banyak menggunakan strategi pertahanan, tanpa serangan. Menurutnya, strategi ini yang kini dipakai pemerintah untuk mempertahankan kondisi ekonomi dari gempuran tekanan ekonomi global dan mengatasi permasalahan ekonomi di dalam negeri, khususnya defisit trasaksi berjalan yang kian melebar.

Faisal menilai langkah jor-joran meningkatkan ekspor jauh lebih berdampak pada pemulihan defisit transaksi berjalan, ketimbang membatasi impor. Pasalnya, pembatasan impor hanya mengurangi devisa yang dibutuhkan untuk pembayaran. Namun, ekspor mendatangkan devisa baru bagi Tanah Air. "Industri sumber daya alam itu jeblok semua, misalnya kertas, karet, kayu, itu jeblok," imbuh Faisal Basri.

Mestinya pemerintah berusaha mencari pasar ekspor baru. Selain mencari opsi baru industri yang bisa diandalkan untuk meningkatkan ekspor, pemerintah juga harus berusaha menggenggam pasar ekspor baru, misalnya negara-negara non tradisional, seperti Afrika Selatan dan Asia.

Caranya, dengan tidak hanya terpaku pada pandangan untuk menjual, namun membeli hasil industri dari negara lain yang bisa dijual kembali ke negara lain. Ia menyontohkan, misalnya dengan meningkatkan penetrasi pasar farmasi ke Kamboja.

Faisal bilang, Kamboja kerap menyerap hasil produksi farmasi dari Indonesia. Namun, mungkin kalau ditingkatkan, Kamboja tidak punya uang yang cukup. Hanya saja, hal ini bisa disiasati dengan menukar produk farmasi Indonesia dengan produk lain dari Kamboja. Itu sekadar ilustrasi.

Sebenarnya pemerintah dapat meningkatkan ekspor dengan mencari industri baru sebagai penyerang utama atau striker, misalnya memaksimalkan industri makanan dan minuman (mamin) dan farmasi. Sebab, sektor industri andalan yang dulu, misalnya yang berorientasi sumber daya alam, seperti perkebunan dan pertambangan sedang melemah.

Dalam hal ini, sekali lagi, pemerintah harus kreatif memutar otak agar ekspor bisa digenjot, bukan cuma business as usual, bekerja rutin atau mengandalkan utang untuk pembiayaan kebutuhan domestik. Kegagalan mengatasi deficit transaksi berjalan jelas bakal menggembosi elektabilitas Jokowi menuju pilpres 2019. Bagaimana ini Pak Jokowi? [berbagai sumber]

Komentar

x