Find and Follow Us

Sabtu, 20 April 2019 | 22:49 WIB

Pertama di RI, Jonan Puji Green Refinery Pertamina

Kamis, 17 Januari 2019 | 19:08 WIB
Pertama di RI, Jonan Puji Green Refinery Pertamina
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Plaju - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, mengapresiasi Green Refinery pertama di Indonesia yang dikembangkan Pertamina di Refinery Unit (RU) III, Plaju, Palembang.

Kata dia, pengembangan green refinery memasuki era baru bagi industri Bahan Bakar Nabati (BBN) di Indonesia. "Kita patut memberikan apresiasi kepada Pertamina yang telah concern terhadap produksi bahan bakar ramah lingkungan yang berasal renewable resources, dalam rangka menciptakan udara yang bersih dengan produksi BBM yang bersih," ujar Ignasius Jonan, dalam kunjunganya ke RU III Plaju, Sumatera Selatan, Kamis (17/1/2019).

Pertamina, lanjut Jonan, harus terus membangun dan menyiapkan green energy untuk generasi masa depan. Inilah tantangan sekaligus peluang bagi Pertamina untuk terus menyediakan bahan bakar berkualitas dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati yang mendampingi kunjungan Jonan mengatakan, Kilang Plaju menjadi pilot project dalam pengolahan minyak sawit menjadi bahan bakar berkualitas dan ramah lingkungan. Hal ini juga sekaligus untuk menjawab tantangan dunia agar bisnis migas mulai move on dari sumber energi fosil menuju green energy.

"Green energy merupakan bisnis masa depan yang banyak dinantikan pasar dunia. Indonesia memiliki sumber green energy yang besar utamanya minyak sawit. Untuk itu, Pertamina akan terus mengembangkan green energy dengan pilot project di Kilang Plaju," ujar Nicke.

Pengembangan green energy di Kilang Plaju, lanjut Nicke, menghemat kas perseroan hingga US$160 juta atau Rp2,3 triliun per tahun. Selain itu, mengurangi impor minyak hingga 7,36 ribu barel per hari (bph).

"Pengembangan Green Refinery sekaligus upaya Pertamina menyukseskan program pemerintah untuk perluasaan penggunaan B20 serta mengurangi impor BBM sehingga cadangan devisa akan terjaga," imbuh Nicke.

Sedangkan untuk jangka panjang, kata dia, Pertamina telah menjalin kerja sama dengan ENI, perusahaan minyak asal Italia yang menjadi pelopor konversi kilang pertama di dunia. Kerja sama ini menyasar kepada pengembangan kilang Pertamina menjadi green refinery.

Kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam menyediakan bahan bakar ramah lingkungan sekaligus mengoptimalkan sumber daya alam dalam negeri untuk menciptakan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional.
Pertamina juga menjajaki kerjasama dengan PTPN untuk suplai kelapa sawit sebagai bahan baku green-fuel, agar bahan bakar yang dijual tetap terjangkau bagi masyarakat Indonesia

Konversi Kilang Plaju menjadi Green Refinery pertama di Indonesia telah dilakukan melalui serangkaian kajian dan ujicoba. Pada Agustus-September 2018, telah dilakukan ujicoba dengan metode Advanced Cracking Evaluation (ACE) Test yang menunjukkan RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm Oil), bisa diolah di Kilang Plaju dengan skema co-processing.

Asal tahu saja, co-processing merupakan salah satu opsi metode produksi green-fuel melalui proses pengolahan bahan baku minyak nabati dengan minyak bumi secara bersamaan menjadi green fuel.

Pada Oktober-November 2018, dilanjutkan penyiapan berbagai sarana dan prasarana seperti line, tangki dan jetty serta sekaligus menyiapan dry stock RBDPO. Pada Desember 2018, telah dilakukan ujicoba skema co-processing dengan injeksi RBDPO secara bertahap mulai 2,5% hingga 7,5%.

Ternyata, hasilnya cukup menggembirakan, karena bisa memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dengan octane number hingga 91,3. "Saat ini, unit RFCC Kilang Plaju yang berkapasitas 20,5 Million Barel Steam Per Day (MBSD) mampu menghasilkan green fuel yang lebih ramah lingkungan sebanyak 405 ribu barel per bulan setara 64.500 kilo liter per bulan. Selain itu, kilang ini juga menghasilkan produksi elpiji ramah lingkungan sebanyak 11.000 ton per bulan," ucap Nicke.

Indonesia, imbuh Nicke, merupakan negara pertama di dunia yang berhasil mengimplementasikan Co-Processing CPO (Crude Palm Oil) menjadi Green Gasoline dan Green LPG untuk skala komersial. Keberhasilan Green Refinery di Plaju, akan terus dikembangkan pada kilang lainnya seperti Kilang Cilacap, Balongan dan Dumai. Bahan bakar yang dihasilkan pun akan diperluas seperti Green Avtur dan Green Diesel yang lebih ramah lingkungan. [ipe]

Komentar

x