Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 Maret 2019 | 06:10 WIB

Bahas Harga BBM, KemenESDM Panggil Semua BU BBM

Oleh : Indra Hendriana | Jumat, 18 Januari 2019 | 18:22 WIB

Berita Terkait

Bahas Harga BBM, KemenESDM Panggil Semua BU BBM
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memanggil semua Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BU BBM). Pemangilan ini untuk melihat formula harga jual BBM non subsidi wajar atau tidak.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut arahan dari Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam membuat suatu formula agar harga BBM non subsidi di Indonesia menjadi wajar.

"Sesuai arahan pak Menteri bahwa harga BBM non subsidi Pertalite, Pertamax, Perta Series di shell Super v, power dll bahwa itu harus dilihat harga wajar seperti apa," kata Arcandra di kantornya, Jakarta, Jumat (18/1/2019).

Namun dia belum bisa menyampaikan kesimpulan atas dipanggilnya semua BU BBM ini. Sebab, saat ini masih dilakukan pembahasan. "Ya nanti sehabis meeting (diberi tahu, red)," ujar dia.

Saat dipertegas apakah perintah Jonan itu karena harga jual BBM non subsidi di Indonesia tidak wajar, Candra panggilan akrabnya tidak menjawab tegas. Menurut dia, harga jual BBM itu selama ini ada ditengah-tengah.

"Selama ini (harga BBM). Tidak tinggi tidak rendah," kata dia.

Jonan sebelumnya memerintahkan Wamen ESDM Arcandra Tahar, membuat suatu formula agar harga BBM di Indonesia menjadi wajar. "Jadi tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Khususnya JBU (jenis BBM umum) yang (harganya) tidak dikendalikan oleh Pemerintah," kata Jonan.

Kemudian, membuat harga avtur harus kompetitif dibandingkan negara lainnya, seperti Singapura. "Harga avtur harus bisa kompetitif. Kalau mau dikurangi, yang dikurangi adalah kebijakan pajaknya. Komponen lainnya harus bisa kompetitif. Jangan harga avtur, misalnya di Singapura, lebih murah daripada harga avtur di Indonesia," kata Menteri ESDM.

Sementara untuk daerah terpencil seperti Tarakan dan Merauke, kata dia, dapat ditambahkan komponen harganya. Namun untuk di daerah-daerah gemuk penumpang seperti Makassar, Surabaya serta Bali, harganya harus kompetitif. "Ini saya minta Pak Wamen untuk mengecek karena sudah mulai ribut," kata Jonan.[jat]

Komentar

x