Find and Follow Us

Rabu, 19 Juni 2019 | 01:13 WIB

Rencana Bulog Ekspor Beras tak Masuk Akal Sehat

Jumat, 25 Januari 2019 | 07:30 WIB
Rencana Bulog Ekspor Beras tak Masuk Akal Sehat
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Keinginan Bulog mengekspor beras dianggap baru sekadar cita-cita, namun tidak masuk akal. Pasalnya, masih banyak hal yang perlu dibenahi guna bisa mencapai cita-cita mulia itu.

Apalagi, harga beras saat ini jauh lebih mahal dibandingkan rata-rata harga beras dunia. Jika dipaksakan diekspor, beras Indoneai tidak akan mampu bersaing.

"Boleh saja ekspor, tapi rugi. Nanti biar kerugiannya ditanggung rakyat," sindir Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas, kepada wartawan, Kamis (24/1/2019) menanggapi keinginan Bulog untuk mengekspor beras.

Ia menjelaskan, saat ini, harga beras di Indonesia di tingkat petani sudah mencapai Rp10 ribuan perkilogtan, dikarenakan harga gabah kering sudah menyentuh Rp5 ribu perkilogran ke atas. Sementara itu, harga beras dunia per tonnya di angka US$404 yang kalau dirupiahkan berada di kisaran Rp5.600-an perkilogran. "Kalaupun nanti musim panen raya, saya prediksi harga beras di tingkat petani sekitar Rp8 ribuan. Masih lebih tinggi," ujarnya.

Andreas menyatakan, baiknya pemerintah tidak mengeluarkan ide yang tidak rasional lagi seperti ini. Bagaimanapun, mimpi mengekspor beras umum tidak mungkin tercapai dengan kondisi selama ini. Berbeda jika memang ingin mengekspor beras khusus, seperti beras organik. "Sudahlah tidak mungkin. Itu saja," tutup akademisi ini.

Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi pun mengamini pendapat Dwi Andreas. Menurutnya, harga beras di Indonesia masih belum bisa menyaingi harga beras yang ditawarkan Thailand maupun Vietnam. Padahal, dalam perdagangan di manapun harga menjadi pertimbangan penting.

"Sebagai contoh misalnya beras dari Vietnam di kisaran US$420 per ton dengan kurs rupiah Rp14.200 per dolar AS belum lagi tambah biaya pengiriman. Bagaimana perbandingannya dengan harga beras nasional? Bisa bersaing tidak? Siapa yang mau beli?" tuturnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (24/1/2019).

Tidak hanya soal harga, mimpi untuk mengekspor beras menurutnya juga harus dengan pembenahan infrastruktur terlebih dahulu. Mulai dari sisi produksi sampai pasca panen. Arief menyatakan, diperlukan industrialisasi pertanian terlebih dahulu untuk mencapai cita-cita tersebut.

"Baiknya dibuat corporate farming dulu jadi ada lahan khusus untuk ekspor ini. Produktivitas juga bisa meningkat, misalnya sekarang 5-6 ton per hektar jadi 7-8 ton per hektar," jelasnya lagi.

Dengan kondisi saat ini, jika ingin mengekspor beras, sebaiknya lebih untuk jenis-jenis beras khusus. Beras khusus dianggap akan lebih mudah bersaing di luar karena harganya yang tinggi.

Pasar Cipinang sendiri saat ini lebih menekankan ke pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Arief mengklaim, saat ini stok di Cipinang mencapai 61 ribu ton. Dari jumlah tersebut, mayoritas diisi beras dengan kualitas medium up atau premium. "Harganya Rp9.450 sampai Rp12 ribuan ke atas. Kalau yang medium, sekitar 16-18% dari total stok tersebut," sebut Arief.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menegaskan, kegiatan ekspor harus berkelanjutan, tak cukup cuma sekali, apalagi jika dilakukan ke negara-negara ASEAN.

Oleh sebab itu, menurut Darmin, jika ekspor hanya dilakukan sekali, lebih baik tidak perlu dilakukan. "Apa susahnya kalau ngomong ekspor, ya kirim saja ke Filipina atau Malaysia, yang penting bisa ekspor. Tapin kalau ekspor itu terus menerus, bukan cuma sekali peristiwa begini, sudahlah lupakan," ujar Darmin di kantornya.

Darmin menambahkan, ketimbang memikirkan ekspor, lebih baik mengamankan pasokan dalam negeri sehingga harga beras stabil. "Sudahlah, yang penting kita jaga harga beras tidak naik, tidak perlu turun," kata mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut.

Untuk diketahui, dalam rapat di DPR kemarin, Direktur Utama Bulog Budi Waseso menyatakan, rencana ekspor tersebut dilakukan agar pihaknya tidak kesulitan untuk melakukan pengadaan beras dari dalam negeri. Sebab, bila gudang penuh, pihaknya tidak bisa lagi menyerap gabah petani. "Masyarakat nggak usah takut gudang penuh dan nggak bisa serap. Kita tetap serap nanti kita kelola dengan ekspor," kata Buwas. [tar]

Komentar

x