Find and Follow Us

Kamis, 25 April 2019 | 08:13 WIB

Minyak Tumpah di Parepare

DPR Desak Izin Kapal Soechi Lines Dicabut

Jumat, 1 Februari 2019 | 08:09 WIB
DPR Desak Izin Kapal Soechi Lines Dicabut
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pertamina sedang melakukan investigasi terhadap tumpahan solar yang berasal dari kapal milik PT Soechi Lines Tbk. Tumpahan solar menggenangi perairan Parepare pada pertengahan Januari 2019.

" Sedang dilakukan investigasi oleh tim, terimakasih," ujar Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur Gandhi Sriwidodo di Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Kapal milik Soechi menumpahkan solar pada 10 Januari 2019 dan berserakan di Pantai Cempae, Parepare, Sulawesi Selatan. Tumpahan tersebut hampir satu kilometer ke pelelangan ikan.

Sementara, Wakil Ketua Komisi VII DPR, Tamsil Linrung, belum lama ini meninjau tumpahan minyak di perairan pantai Cempae, Parepare.

Ia meminta kepada seluruh pihak agar bertanggung jawab atas adanya tumpahan minyak yang berampak pada pencemaran lingkungan. "Kami minta kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kasus tumpahan minyak ini, berdasarkan mekanisme dan temuan di lapangan bahwa ada tumpahan solar, untuk melakukan ganti rugi kepada warga yang terdampak," katanya.

Tamsil berjanji, jika memang tidak ada kejelasan terkait insiden tumpahan minyak ini, maka dirinya akan membawa aspirasi warga ke Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dirut Pertamina di Komisi VII DPR. "Kalau memang pihak Pertamina tidak melakukan langkah-langkah nyata sesuai mekanisme, kita akan panggil Dirut Pertamina untuk dilakukan RDP. Kita juga bisa panggil BPH Migas, "katanya.

Ketika disinggung mengenai kapal MT Golden Pearl XIV milik PT Soechi Lines yang dituding kerap melakukan kesalahan yang sama, Tamsil mengatakan, siapa pun yang bersalah harus ditindak sesuai SOP dan undang-undang yang berlaku. "Jika memang terbukti bersalah, maka kami mendesak izinnya dicabut," tegas Tamzil.

Berikut adalah kompilasi berbagai kecelakaan dan perkara Soechi dari tahun 2010 hingga 2019 yang dilaporkan di berbagai media:

Pada 19 Mei 2010, Kapal Soechi XIX menabrak KM Dian No 1 hingga tenggelam di Teluk Jakarta dengan kecepatan penuh. Kapal Soechi XIX dianggap mengabaikan upaya awak KM Dian No 1 yang berkomunikasi melalui radio VHF dan juga lampu sorot.

Pada 13 Oktober 2010, MT Angelia XVI yang disewa PT Pertamina (Persero), ditangkap kapal patrol Polri karena "kencing" di perairan Kalimantan Selatan. Saat ditangkap, kapal Angelia XVI ini membawa solar serta premium milik Pertamina.

Pada 18 Oktober 2010, masalah sewa lahan galangan kapal PT Multi Ocean Shipyard (MOS)
Izin-izin atas sewa lahan milik pemerintah dan penggunaan lahan laut untuk reklamasi belum berada di tangan DPRD Karimun. Ketua Komisi A DPRD Karimun saat itu, Jamaluddin Sahari mengungkapkan dugaan pelanggaran dan mendesak pemerintah daerah menutup aktivitas MOS.

Pada 27 Agustus 2012, Kapal Soechi Lesmana terbakar, 2 orang tewas dan 2 kritis. Kapal yang sedang disewa Pertamina ini, mengangkut 6.000 ton solar dan premium, meledak dan terbakar di perairan Mamuju, Sulawesi Barat. Akhirnya kapal ini kandas dekat Kota Mamuju.

Pada 3 Desember 2012, MT Soechi Anindya selaku pemegang kontrak Pertamina membawa minyak dari Terminal Pertamina di Pulau Sambu. Namun dalam perjalanan, kapal berbelok arah ke perairan Malaysia. Selanjutnya segel dirusak dan 300 ton BBM dipompa dari MT Soechi Anindya ke MT Fulfill.

Kepala Bidang Penindakan dan Sarana Operasi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Khusus Kepulauan Riau, Ahmad Rofiq mengungkapkan, "ABK (MT Soechi) mengakui sudah tiga kali menyelundupkan MFO." Direktur Jenderal Bea Cukai Agung Kuswandono menambah,"kapal Soechi Anindya ini diduga sudah berulang kali menyelundupkan BBM."

Pada 28 Januari 2014, MT Soechi Chemical VII menabrak KMP Jatra III di Selat Sunda. Pada 10 Februari 2015, Very Large Crude Carrier (VLCC) Arenza XXVII milik Soechi, sempat disewa Pertamina ditahan di perairan Singapura karena tidak membayar hutang senilai SGD 1,67 juta terkait pembelian bahan bakar minyak (BBM) dengan perusahaan penjual BBM Sentek Marine & Trading Pte. Ltd.

Pada 26 April 2015, Soechi Chemical I terhempas dan hampir menabrak Hotel di Selat Sunda. Soechi Chemical I yang disewa Pertamina kandas di perairan Merak dan hampir menabrak Hotel Merak Beach.

Pada 21 Desember 2015, Alisa XVII yang disewa Pertamina, mengalami mati mesin alias kandas. Selanjutnya kapal ini kandas di Pacitan. "Kapal itu sedang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Cilacap dan mengalami mati mesin sehingga terdampar di sini," terang Kanit Satpolair Pacitan, Bripka Indro Wibowo.

Pada 12 Januari 2017, buruh demo karena gaji tidak dibayar PT MOS di Karimun. Aksi ini berakhir dengan kerusuhan pekerja. Semuanya dipicu keterlambatan pembayaran gaji pekerja yang berjumlah sekitar 1.600 orang.

Pada 19 Juli 2017, Soechi terlambat mengirim 3 unit kapal pesanan Pertamina. Kapal tersebut seharusnya diserahterimakan antara 2015-2016, terlambat hampir 3 tahun.

Namun, Paula Marlina selaku Direktur Keuangan Soechi Lines, menepis isu adanya denda atau penalti yang hingga Juni 2017 nilainya disebut-sebut mencapai US$50 juta.

Pada 29 November 2017, SC Warrior L terbakar di China. Kapal milik Soechi yang disewa Pertamina ini, mengalami kebakaran di sungai dekat Guang Zhou, China. Akibatnya, empat kru kapal luka parah dan 11 personil lainnya terluka.

Pada 31 Agustus 2018, PT MOS digugat PKPU, Pengadilan Negeri Medan mengabulkan perkara permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap PT Multi Ocean Shipyard (MOS) yang diajukan Excellift Sdn Bhd, dan PT Kawasan Dinamika Harmonitama.

Pada 24 November 2018, terjadi ledakan di galangan kapal MOS, sebanyak 23 pekerja dikabarkan menjadi korban dan menderita luka serius di bagian wajah serta badan, akibat balon udara yang digunakan diduga kuat sudah terlalu lapuk dan banyak tambalan yang meledak.

Ketua DPD Partai Hanura Provinsi Kepri, Bakti Lubis menyatakan, kasus kecelakaan kerja di MOS bukan yang pertama kali terjadi. "Informasi minimnya safety kerja dan sistem pembayaran hak- hak karyawan di luar ketentuan oleh PT MOS itu sudah menjadi rahasia umum di Karimun, bahkan dugaan kuat pidana lingkungan dan pajak timbunan," kata Bakti Lubis.

Pada 24 November 2018, Masalah BPJS Ketenagakerjaan. Hanya 800 pekerja dari total 1.600 pekerja MOS yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan. Disnaker berjanji akan memberikan sanksi tegas bila MOS terbukti bersalah.

Sanksi administrasi berupa pemberhentian rekomendasi pemerintah daerah untuk mendapatkan proyek pemerintah hingga pemberhentian proyek serta sanksi pidana 8 tahun penjara dan denda hingga Rp1 miliar.

Pada 10 Januari 2019, solar tumpah dari kapal Golden Pearl XIV di perairan Parepare. Kejadian terakhir dialami Golden Pearl XIV yang disewa Pertamina. Kapal berukuran 6.715 DWT ini bocor dan menumpahkan solar di perairan Parepare. Rilis Pertamina mengungkapkan, penyebab kejadian adalah "kerusakan pada pendingin LO Cooler A/E kapal tanker. Solar tersebut adalah bahan bakar kapal, bukan dari muatan tanker" dan jumlah solar yang tumpah tersebut adalah 800 liter.

Sekretaris Perusahaan SOCI, Paula Marlina menyampaikan, kapal Golden Pearl XIV mengalami masalah teknis sehingga menimbulkan kebocoran minyak. "kapal Golden Pearl XIV terjadi masalah teknis pada propeller kapal yang mengakibatkan adanya rembesan oli 100 liter-200 liter dari propeller kapal," kata dia.

Anehnya, Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR VII, M Roby Hervindo menyebutkan bahwa pihaknya mengidentifikasi adanya kerusakan Kapal Golden Pearl XIV terjadi pada pendingin LO Cooler A/E. Adanya perbedaan pernyataan dari keduanya, tentu menjadi pertanyaan besar. Siapa berbohong? [ipe]




Komentar

x