Find and Follow Us

Selasa, 18 Juni 2019 | 13:19 WIB

Harga Listrik Dikunci, Investor EBT Malas-malasan

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 7 Februari 2019 | 21:13 WIB
Harga Listrik Dikunci, Investor EBT Malas-malasan
(Foto: inilahcom/Dok)

INILAHCOM, Jakarta - Realisasi investasi sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) sepanjang 2018, meleset dari target sebesar US$2,01 miliar. Nilai investasinya hanya US$1,6 miliar, atau setara 79,7% dari target.

Pakar Energi yang juga Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Surya Darma mengatakan, belum tercapainya investasi yang berdampak kepada belum berkembangnya pembangkit EBT di tanah air. Lantaran, harga jual listriknya belum cukup mampu menjadi daya tarik bagi investor. Karena masih 'dikunci' pemerintah.

Menurut dia, perkembangan EBT sendiri tergantung dari harga jual listrik. Di mana dengan harga jual listrik yang tak sesuai kalkulasi bisnis, berdampak kepada seretnya pengembangan EBT.

"Begini kalau ingin mengembangkan itu perlu mendapatkan return, return itu dihitung dari harga. Oleh pemerintah kalau dulu deal antara pengembang dan PLN, satu-satunya pembeli susah deal. Kalau dia nggak mau pembeli terus kita jual dimana lagi," kata Surya dalam diskusi Kedaulatan Energi di Sriwijaya Center, Jakarta, Kamis (7/2/2019).

Dengan begitu, apabila pemerintah rius ingin mengembangkan sektor EBT, penetapan harga listriknya harus sesuai dengan besarnya investasi.
"Pemerintah jangan negosiasi harus ditetapkan, hitung aja pemerintah, sebetulnya berapa biaya investasi, adalah cara menghitungnya," kata dia.

Selama ini, kata dia, pemerintah justru menetapkan harga listrik berdasarkan biaya pokok PLN. Sehingga, kurang menarik minat pengembang.
"Ternyata pemerintah mengeluarkan peraturan yang nggak menghitung berdasarkan itu, ditetapkan aja pokoknya harga EBT 85% dari biaya pokok. Biaya pokok yang mana? Terserah aja PLN yang tetapkan biaya pokok. Gimana kalau saya mau harga murah, saya tetapkan aja biaya pokok saya murah," kata dia. [ipe]


Komentar

Embed Widget
x