Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 Februari 2019 | 21:06 WIB

Defisit Migas Terbesar Era Jokowi Tembus US$12,5 M

Oleh : Indra Hendriana | Jumat, 8 Februari 2019 | 03:09 WIB

Berita Terkait

Defisit Migas Terbesar Era Jokowi Tembus US$12,5 M
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Di akhir pemerintahan, Presiden Joko Widodo menghadapi masalah energi yang cukup serius. Yakni, defisit neraca migas 2018 sebesar US$12,5 miliar. Ironinya, masalah ini seolah tak dianggap serius.

Hal itu disampaikan pengamat migas Fathor Rachman dalam diskusi membedah Kedaulatan Energi Apa Solusinya di Sriwijaya Center, Jakarta, Kamis (7/2/2019). "Tahun 2018 cukup surprised buat saya karena defisit neraca migas kembali terjungkal ke angka US$12,5 miliar. Terbesar dalam empat tahun belakangan. Padahal, harga minyak pada 2018 itu 30% di bawah harga tahun 2014 atau 2012. Ya di kisaran US$70 saja," papar Fathor Rachman.

Masih kata mantan Staf Ahli Kepala BP Migas ini, defisit neraca migas adalah masalah serius. Siapapun yang terpilih dalam pilpres 2019 haruslah memiliki strategi guna menjaga neraca migas ini. Khususnya dalam menjaga importasi BBM yang konsumsinya semakin hari semakin tinggi.

Sejatinya, lanjut Fathor, pada 2004, Indonesia sudah mulai menjadi negara pengimpor minyak (net importir). Baru pada 2012, efeknya begitu terasa dengan munculnya defisit neraca migas mendekati mendekati US$4 miliar. "Kita ingat pada 2012-2013, pemerintah melakukan devaluasi karena neraca perdagangan defisi. Devaluasinya cukup signifikan sampai di atas 25%," paparnya.

Pada 2014, lanjutnya, defisit migas melompat hingga US$12 miliar. Setahun kemudian, harga minyak turun mendorong turunnya defisit menjadi sekitar US$4 miliar. "Akan tetapi, pemerintahan Pak Jokowi itu tidak menetapkan ini sebagai tantangan berat dari perekonomian nasional," paparnya.

"Seharusnya ini dijadikan catatan untuk mendapat perhatian serius, bagaimana kita keluar dari perangkat ini. Memang itu bukan solusinya itu pilihannya bukan pilihan yang gampang, pilihan yang sulit," tambahnya. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x