Find and Follow Us

Kamis, 25 April 2019 | 07:50 WIB

Tarif Ojol Naik, Beban Berat Konsumen & Pengemudi

Selasa, 12 Februari 2019 | 12:25 WIB
Tarif Ojol Naik, Beban Berat Konsumen & Pengemudi
(Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAHCOM, Jakarta - Provider ojek online disarankan lebih bijak dalam merumuskan kenaikan tarif ojek online (ojol). Jangan sampai kenaikannya memberatkan konsumen serta merugikan pengemudi karena sepi.

Hal itu disampaikan mantan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Zumrotin K Susilo di Jakarta. "Jangan sampai konsumen dan pengemudi yang menjadi korban. Kalau konsumen berat maka akan memilih transportasi yang lebih murah, atau balik ke kendaraan pribadi. Kalau sudah begitu pengemudi ojol yang merugi," ujar Zumrotin.

Pihak provider, kata dia, harus memberikan kesejahteraan, keamanan, dan keselamatan untuk pengemudi ojol. Dalam hal ini, Kementerian Ketenagakerjaan perlu ikut mengawasi provider agar pengemudi ojol mendapatkan hak pendapatan yang layak. "Jangan langsung dinaikan tarifnya tanpa memikirkan dampaknya," ucapnya.

Kemudian, lanjutnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga harus ikut serta mengawasi sistem pembayaran ojol secara online. "Kalau bisa melibatkan semua stake holder secara menyeluruh agar tidak ada ketimpangan antara pengemudi, provider dan konsumen," ujarnya.

Zumrotin berharap, kenaikan tarif ojol harus memikirkan kepentingan konsumen dan pengemudi. Kalau tidak dipikirkan solusinya ini akan merugikan keduanya.

Berdasarkan survei RISED, jarak tempuh rata-rata konsumen adalah 8,8 km per hari. Dengan jarak tempuh sejauh itu, apabila terjadi kenaikan tarif dari Rp2.200 menjadi Rp 3.100 per km, atau naik Rp900 per km, maka pengeluaran konsumen akan membengkak Rp7.920 per hari. Anggaplah sebulan 30 hari dan kenaikannya Rp8.000 per hari, maka pengeluaran untuk ojol naik Rp240 ribu per bulan. Lumayan besar juga ya. [tar]

Komentar

x