Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 20 Maret 2019 | 17:26 WIB

Susi Jengkel dengan Pengusaha Ikan

Selasa, 12 Februari 2019 | 18:03 WIB

Berita Terkait

Susi Jengkel dengan Pengusaha Ikan
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengatakan jika pengusaha perikanan tangkap di Indonesia masih banyak yang belum patuh terhadap aturan.

Menurut dia, ekspor perikanan Indonesia mengalami kenaikan signifikan. Namun sebetulnya masih banyak yang belum dilaporkan.

"Ada yang WA, 'ibu saya sudah bayar tapi belum jadi-jadi. Terus satu tahun operasi 9 bulan masa dapat Rp2 miliar saja. Saya kasih emoticon," kata Menteri Susi saat memperlihatkan tangkapan layar percakapannya dengan pengusaha di Kantor Staff Presiden, Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Dia mengatakan, sikap para pengusaha sering membuat jengkel karena mereka seakan tidak mau mengikuti aturan yang ada.

"Maunya apa? saya jawab lagi pakai tanda pentung (tanda seru) gitu kan jengkel juga. Jadi bu Susi mau saya lapor berapa? Benar-benar kurang ajar sekali ini namanya pengusaha sama menterinya ngomongnya begitu coba," ujarnya.

Susi telah meminta para pengusaha memperbaiki laporan pendapatannya. Bahkan bulan Agustus tahun lalu Susi mengaku telah membuat sebuah video peringatan. "Tahun lalu saya bikin video peringatan pada semua pengusaha karena dengan catatan kita kenaikan ekspor 10 sampai 12 persen itu unreportednya (tidak dilaprokan) masih eighty persen," ungkapnya.

Dia mengeluhkan kepatuhan para pengusaha masih sangat minim. Meski sudah memperbaiki laporan mereka namun masih belum jujur.

"Semua pengusaha perikanan tangkap saya mohon saudara segera memperbaiki laporan hasil tangkapannya. Ada yang Rp 300 juta jadi Rp 2 miliar. Dari 20 ton jadi 200 ton, padahal dia nangkapnya 2.000 ton. Tapi ya itu dia, dari zaman dulu kita ini selalu seperti itu, everything is unreported. Nah kita mencoba membenahi transparansi," ujarnya.

Tidak hanya ikan, ekspor mutiara pun laporannya masih dimanipulasi. Misalnya ekspor ke mutiara ke Hong Kong tercatat hanya 4,1 ton. Sedangkan data impor milik Hong Kong, disebutkan mereka telah mengimpor sebanyak 20 ton mutuara dari Indonesia.

"Yang belum open adalah data laporan dari para pengusaha yang tadi nangkap setaun 2.000 ton dia laporan cuma 200 ton. Kalau saya tekan (ditanya) kenapa kamu, (jawabnya) ibu maunya berapa. Dari Rp200 juta naik ke Rp300 juta naik ke Rp2 miliar. Saya bilang belum cukup, kamu lasti lebih dari itu. Ini kepatuhan pengusaha belum cukup," tutupnya.[jat]

Komentar

x