Find and Follow Us

Jumat, 19 Juli 2019 | 11:42 WIB

Nasib Divestasi 20% Saham PT Vale Tunggu ESDM

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 13 Februari 2019 | 01:11 WIB
Nasib Divestasi 20% Saham PT Vale Tunggu ESDM
PT. Vale Indonesia Tbk - (Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian BUMN menyatakan minat untuk mencaplok 20% saham PT. Vale Indonesia Tbk dengan menugaskan holding industri pertambangan. Namun penugasan itu menunggu sikap dari Kementerian ESDM.

Sementara pihak Kementerian ESDM bakal memberi jawaban setelah jatuh tempo penawaran divestasi Vale pada Oktober mendatang.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Kementerian BUMN, Fajar Hari Sampurno mengatakan saham Vale bisa saja dibeli oleh PT Inalum (persero) atau PT Antam tbk.

Hanya saja sampai saat ini belum ada penugasan bagi holding industri pertambangan tersebut. Pihaknya masih menunggu respon dari Kementerian ESDM.

"Kami menunggu dari Kementerian ESDM. Kalau sudah mulai, kami ikut," kata Fajar di Jakarta, Selasa (11/2/2019).

Sementara itu Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian ESDM Bambang Gatot menuturkan Vale memang sudah melayangkan surat pemberitahuan divestasi saham.

Hanya saja dia menegaskan jatuh tempo divestasi Vale pada Oktober mendatang. Artiannya pada Oktober nanti Vale diminta kembali melayangkan penawaran saham.

"Tunggu Oktober jatuh tempo," ujar dia.

Bambang mempersilahkan Vale bila ingin melepaskan saham tersebut sebelum jatuh tempo. Dia menyebut hal tersebut sudah dilakukan oleh pemegang Kontrak Karya (KK) PT Agincourt Resources maupun PT Newmont Nusa Tenggara.

Pada Maret 2016, perusahaan konsorsium pertambangan yang dipimpin oleh EMR Capital, spesialis dana ekuitas pertambangan swasta asal Australia, resmi menjadi pemegang saham utama Agincourt Resources.

Komposisi kepemilikan saham Agincourt dikuasai mayoritas oleh EMR Capital 61,4%, Farallon Capital 20,6%, Martua Sitorus 11% serta Robert Hartono & Michael Bambang Hartono 7%. Sementara Newwont dibeli oleh PT Medco Energi Internasional Tbk.

Namun Bambang menyebut pelepasan saham sebelum jatuh tempo itu bisa dikategorikan sebagai divestasi. "Nanti kalau presentase akhir dianggap sudah berapa persen juga kan," ujarnya.

Sebelumnya Presiden Direktur Vale, Nico Kanter mengatakan bila pihaknya saat ini tengah menanti jawaban pemerintah terkait pelepasan 20% saham melalui skema divestasi. Sikap pemerintah itu berkolerasi dengan perhitungan nilai saham yang nanti ditawarkan.

Pasalnya dalam KK yang dipegang Vale memuat dua mekanisme perhitungan saham yakni harga pasar yang wajar (fair market value) dan replacement cost.

"Jadi untuk valuasi kami menunggu sikap pemerintah," ujarnya.

Nico membeberkan valuasi saham menggunakan skema fair market value bila 20% saham dibeli oleh badan usaha milik negara (BUMN). Sementara perhitungan dengan skema replacement cost digunakan bila saham divestasi dibeli oleh pemerintah. "Harus ada pihak yang ditunjuk baru valuasi," ujar dia.[jat]

Komentar

x