Find and Follow Us

Senin, 17 Juni 2019 | 05:00 WIB

Bos Bukalapak Dibully

Ini Perbandingan Anggaran Riset RI

Oleh : M Fadil Djailani | Jumat, 15 Februari 2019 | 16:09 WIB
Ini Perbandingan Anggaran Riset RI
CEO Bukalapak Achmad Zaky - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Nama founder dan CEO Bukalapak Achmad Zaky menjadi meteor pembicaraan di dunia maya sejak semalam hingga hari ini, Jumat, (15/2/2019). Penyebabnya adalah cuitan Zaky seputar kecilnya dana riset dan pengembangan negeri ini dibanding negara lain.

Lantas berapakah sebetulnya dana riset dan pengembangan Indonesia?

Mengutip data Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan (Kemenristek Dikti) pada 2016, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) dana riset tanah air naik dari Rp13 triliun menjadi Rp17 triliun.

Dari data tersebut terlihat dana riset Rp17 triliun itu setara dengan 0,2% per produk domestik bruto (PDB). Sementara saat dana riset berkisar Rp13 triliun, setara dengan 0,09% PDB Indonesia.

Meskipun ada kenaikan, anggaran atau belanja riset tanah air masih kecil dibandingkan negara ASEAN lainnya. Semisal anggaran riset di Malaysia sudah 1% dari PDB mereka. Kemudian di Thailand (0,25%) dan Singapura (2,1%).

Data Kemenristekdikti pada 2014 menyebutkan Korea Selatan menjadi negara dengan belanja riset terbesar yakni mencapai 3,6% dari PDB-nya. Kemudian disusul Jepang (3,4%), Jerman (2,85%), Amerika Serikat (2,78%), dan Taiwan (2,35%).

Dan data terbaru pada 2018, jumlah total anggaran riset untuk seluruh lembaga penelitian berjumlah sekitar Rp23 triliun atau sekitar 0,23 persen PDB naik cukup siginifikan dari 2016.

Namun lagi-lagi, jika dibandingkan dengan negara tetangga di tahun yang sama, anggaran riset Indonesia makin kalah telak, Malaysia misalnya yang mengalokasikan 2,8% PDB-nya atau sekitar Rp150 triliun.

Yang lebih ironi, terkait sumber dana, anggaran riset dalam negeri sepenuhnya masih di topang anggaran dalam negeri. Padahal di negara maju, anggaran riset paling besar itu diberikan pihak swasta.

Minimnya dana riset nonpemerintah itu, merupakan gejala belum bergairahnya kegiatan riset di kalangan swasta. Penyebabnya adalah kalangan industri merasa tidak ada benefit bagi mereka. Bahkan perusahaan harus menanggung pajak untuk dana riset yang dikeluarkan.

Jadi bisa dikatakan kegelisahan bos Bukalapak, Achmad Zaky terkait dengan anggaran riset ini bisa dimaklumi, apalagi mau bersaing di era industri 4.0. [hid]



Komentar

Embed Widget
x