Find and Follow Us

Senin, 14 Oktober 2019 | 21:20 WIB

Eksplorasi 'Obat' Defisit Migas di Tahun 2025

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 19 Februari 2019 | 19:14 WIB
Eksplorasi 'Obat' Defisit Migas di Tahun 2025
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Defisit minyak dan gas bumi (Migas) diperkirakan kian lebar di tahun 2025. Hal ini apabila kedepannya eksplorasi tidak menemukan blok Migas baru.

Nah, untuk mengatasi defisit miga, maka kedepan musti dilakukan eksplorasi yang masif. Mengenai pendanaanya, itu bisa menggunakan dana yang dikumpulkan dari KKKS atas setoran komitmen kerja pasti (KKKP) yang saat ini nilainya Rp31 triliun.

"Ini dana yang bisa digunakan untuk eksplorasi 5-10 tahun ke depan. Dana ini kami harapkan terus bertambah," kata Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Selain dana eksplorasi, pemerintah juga berencana memperbaiki dari sisi penggunaan data untuk kebutuhan seismik. Data-data kebutuhan untuk eksplorasi akan dibuka bagi perusahaan-perusahaan yang berminat.

"Data-data akuisisi akan dibebaskan. Karena selama ini, dana PNBP dari akses data hanya sekitar US$ 1 juta. Jadi kita akan revisi Permen Nomor 27 Tahun 2006," kata dia.

Sementara itu mantan Direktur Hulu PT Pertamina Syamsu Alam mengatakan, hingga tahun 2050 kebutuhan migas khususnya minyak secara persentase belum berkurang secara signifikan dan mencapai 2 juta-3 juta barel per hari (bph).

Di sisi lain, jika melihat cadangan Indonesia 3,5 bilion BOE atau hanya 0,2% dari cadangan minyak dunia, sehingga butuh effort luar biasa agar produksi nasional bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Kita harus ingat, produksi minyak saat ini 800 ribu itu yang 200 ribu bph berasal dari Banyu Urip. Kalau tidak ada Banyu Urip, produksi hanya 500 ribuan. Kalau tidak menemukan Banyu Urip lainnya, kita akan menghadapi masalah besar nantinya," ujar dia.

Dengan demikian, kedepan eksplorasi musti dilakukan dengan baik. Ini agar defisit migas tidak terjadi.[jat]

Komentar

Embed Widget
x