Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 Maret 2019 | 10:23 WIB

Awal 2019, Sri Mulyani Akui Fiskal Berat

Kamis, 21 Februari 2019 | 09:09 WIB

Berita Terkait

Awal 2019, Sri Mulyani Akui Fiskal Berat
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Realisasi defisit anggaran di APBN hingga akhir Januari 2019, mencapai Rp45,8 triliun. Atau setara 0,28% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Lebih tinggi ketimbang defisit Januari 2018 sebesar Rp37,7 triliun.

"Defisit anggaran mencapai Rp45,8 triliun, lebih besar dari tahun lalu dalam periode yang sama Rp37 triliun," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam jumpa pers perkembangan APBN di Jakarta.

Realisasi defisit anggaran ini berasal dari pendapatan negara sebesar Rp108,1 triliun atau lima persen dari target serta belanja negara Rp153,8 triliun, atau 6,3% dari pagu.

Pendapatan negara tersebut mencakup penerimaan perpajakan Rp89,8 triliun, atau 5% dari target, dan penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp18,3 triliun atau 4,8% dari target.

Penerimaan perpajakan tersebut berasal dari penerimaan pajak termasuk PPh migas sebesar Rp86 triliun atau 5,5% dari target dan penerimaan kepabeanan dan cukai Rp3,8 triliun, atau 1,8% dari target.

Sedangkan, realisasi belanja negara terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp76,1 triliun, atau 4,7% dari pagu serta transfer ke daerah dan dana desa mencapai Rp77,7 triliun, atau 9,4% dari pagu.

Belanja pemerintah pusat mencakup belanja Kementerian/Lembaga yang sudah mencapai Rp32 triliun atau 3,7 persen dari pagu serta belanja non-Kementerian/Lembaga sebesar Rp44,1 triliun atau 5,7 persen dari pagu.

Untuk menutup defisit anggaran tersebut, realisasi pembiayaan anggaran sudah mencapai Rp122,5 triliun atau lebih rendah dari tahun lalu Rp27,6 triliun.

"Pembiayaan anggaran sampai Januari ini kita telah merealisasi Rp122,5 triliun karena adanya front loading (pendanaan APBN melalui pasar modal di awal tahun) yang dilakukan dalam rangka mengantisipasi kondisi pasar yang, dan kita lihat juga ada kesempatan yang cukup favorable (menguntungkan) pada bulan Januari ini," ujar Sri.

Dalam kesempatan ini, pemerintah juga mencatat neraca keseimbangan primer mencapai defisit Rp22,8 triliun, dibandingkan pada periode sama di 2018 sebesar Rp14,2 triliun. [tar]

Komentar

Embed Widget
x