Find and Follow Us

Kamis, 23 Mei 2019 | 02:55 WIB

Resiko Sistemik Lewat, Terima Kasih BI dan OJK

Selasa, 26 Februari 2019 | 14:40 WIB
Resiko Sistemik Lewat, Terima Kasih BI dan OJK
President Director Center for Banking Crisis (CBC), Achmad Deni Daruri - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Dua sumber resiko sistemik yang utama pada 2019 berhasil dilalui. Alhasil sistem keuangan dalam negeri semakin mantap. Jangan lupakan peran penting Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Demikian pandangan President Director Center for Banking Crisis (CBC), Achmad Deni Daruri di Jakarta, Selasa (26/2/2019). Dua sumber resiko sistemik yang dimaksud Deni adalah, pertama, respons pengetatan kebijakan bank sentral negara maju termasuk Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara emerging yang lebih agresif dibandingkan perkiraan. "Sehingga mengakibatkan kenaikan suku bunga internasional dan mengetatnya likuiditas global, ternyata tidak terjadi," terang Deni.

Patuhnya Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) terhadap Presiden Donald J Trump, merupakan bentuk nyata dari dovish-nya resiko sistemik tersebut. Dalam hal ini, Bank Indonesia (BI) dengan memperhitungkan covered interest parity, telah menempatkan kebijakan moneter yang tepat yang a head the curve.

Kedua, kata Deni, berlanjutnya kebijakan proteksionis AS yang meningkatkan eskalasi trade war dengan China (Tiongkok), diperkirakan semakin melemah. Langkah BI dan OJK dengan menganut prinsip bank follows the trade, tampaknya berhasil menjangkar resiko inflasi yang berpotensi ditimbulkan oleh perang dagang.

Dengan menggunakan pendekatan yang dilakukan Rime, Scrimpf dan Syrstad pada 2017, terbukti bahwa deviasi dalam covered interest parity yang umumnya terjadi secara persisten setelah global financial crisis, dapat dijinakan.

"Hal ini juga dapat terjadi akibat kecerdikan pengelola sektor moneter dan keuangan di Indonesia, khususnya dalam mengelola kebijakan moneter dan keuangan yang tidak melemahkan peran negara dan masyarakat dalam pembangunan," kata Deni.

Teori ini, lanjutnya, sejatinya telah dikembangkan oleh Raghuram Rajan, lulusan Universitas Chicago yang pernah menjadi gubernur bank sentral India dan chief economist IMF. Namun, justru di Indonesia-lah teori ini bisa diterapkan dengan baik oleh BI dan OJK.

Dengan mengimplementasikan teori ini, kata dia, ancaman shok berupa contagion effect krisis perekonomian yang terjadi di Turki dan Argentina bakal menjalar ke sejumlah negara emerging, semakin jauh panggang dari pada api. "Acungan jempol patut diberikan khususnya kepada Perry Waluyo yang mampu melakukan kebijakan moneter yang bersifat divergensi setelah mampu membaca dengan baik pergerakan deviasi yang besar dari rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam konteks covered interest parity khususnya pada akhir 2018 dan awal 2019," ungkapnya.

Jika kewaspadaan ini dapat dipertahankan dengan baik, kata dia, maka dapat diperkirakan bahwa stabilitas sistem keuangan pada 2019, akan kembali terjaga dengan baik. Apalagi, BI memprioritaskan menjaga stabilitas ketimbang pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian, langkah BI mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate atau BI7DRR sebesar 6,00%; suku bunga Deposit Facility 5,25%; dan suku bunga Lending Facility 6,75% mengacu kepada covered interest rate parity, merupakan langkah yang tepat. Seiring ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari kenyataan, serta ekspektasi nilai tukar rupiah yang lebih murah dari yang terjadi di pasar. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x