Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 Maret 2019 | 10:30 WIB

Jangan Remehkan Warning Sri Mulyani Soal Unicorn

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 26 Februari 2019 | 20:10 WIB

Berita Terkait

Jangan Remehkan Warning Sri Mulyani Soal Unicorn
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Peringatan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, terkait banyak investor asing kepincut menguasai perusahaan teknologi rintisan Indonesia berskala besar alias unicorn, jangan anggap remeh.

"Saya rasa kekhawatiran (Sri Mulyani) itu valid. Karena memang kebanyakan dari unicorn itu basisnya user," kata Pengamat Ekonomi dari Univeraitas Indonesia (UI), Fithara Faisal Hastadi, Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Sebab, kata Fithara, dengan menguasai unicorn, investor asing itu bakal leluasa dalam mencermati data kegiatan ekonomi di Indonesia. Data tersebut sangat berguna untuk menguasai pasar Indonesia. "Jadi mereka bergeraknya lebih ke user base dan kecenderungan kalau kita berbicara user base itu adalah datanya yang sangat kaya," ujar dia.

"Ketika investor masuk di situ, mereka bisa memanfaatkannya. Jadi kan pada akhirnya kita bicara the new currency, atau uang baru adalah ya sekarang data atau kata Bu Sri Mulyani bahasanya lebih kepada tambang minyak baru," kata dia menutup.

Sebelumnya Menkeu Sri Mulyani mengingatkan, banyak investor global yang ingin memiliki saham perusahaan teknologi rintisan Indonesia skala besar atau unicorn. Mengincar kepemilikan data kegiatan ekonomi masyarakat yang kemudian dapat diolah menjadi produk menguntungkan.

Sri Mulyani mengatakan tidak perlu heran jika melihat saat ini banyak perusahaan "unicorn" (perusahaan rintisan bervaluasi di atas satu miliar dolar AS), yang diminati investor global, padahal perusahaan tersebut tergolong baru dan belum begitu menjanjikan.

Investor-investor tersebut, kata Menkeu, mengincar kekayaan data yang dimiliki perusahaan "unicorn". Data yang merekam kegiatan ekonomi, terutama kegiatan konsumsi dan transaksi masyarakat, kata Sri, menjadi komoditas baru yang berharga dalam kegiatan ekonomi saat ini.

"Begitu banyak 'unicorn' kita yang masih baru, begitu banyak orang investasi di sana, mereka hanya 'membakar' uang, karena mereka 'pengen' tahu 'mining'-nya (penambangan data) ketika itu menjadi sebuah aset. Kemudian, valuasi asetnya akan muncul dan aset itu yang diincar," ujarnya.

Sri menganalogikan nilai kepemilikan data ekonomi masyarakat saat ini sama dengan nilai komoditas tambang di Indonesia yang dulu selalu menjadi incaran perusahaan-perusahaan global.

Saat ini, data ekonomi masyarakat adalah komoditas paling berharga. Korporasi-korporasi besar tidak lagi harus repot untuk melakukan survei dalam setiap kegiatan riset bisnis jika sudah menguasai data ekonomi masyarakat.

"kita bisa buka data dari Bukalapak, Tokopedia, Shopee. Ini kenapa data adalah komoditas tambang baru. Kalau dulu tambang masih timah, batubara, berlian, sekarang siapa manusia terkaya semuanya tidak terkait dengan sumber daya alam, tapi sesuatu yang berhubungan dengan data dan teknologi," ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Perburuan data itu adalah implikasi dari terjadinya revolusi industri 4.0 saat ini. Semua misi bisnis banyak yang beralih untuk berorientasi pada konsumen sentris. "Artinya, sekarang ini, data jadi sangat penting, dan berikutnya adalah pengelolaan datanya," ujar dia. [ipe]

Komentar

x