Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 Maret 2019 | 10:29 WIB

DPR Soroti Keluhan Nasabah J Trust

Jumat, 1 Maret 2019 | 07:09 WIB

Berita Terkait

DPR Soroti Keluhan Nasabah J Trust
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Anggota Komisi XI DPR Hendrawan Supratikno janji akan mengkaji tata pelaksana perusahaan asing dalam usaha perbangkan J Trust Invesment Indonesia.

Hal itu ditegaskan politikus PDIP menyusul munculnya keluhan perlakuan semena-mena dirasakan sejumlah nasabah J Trust. "Tidak sabar mendengar keluh kesah para nasabah. Akan kami mengkaji tata pelaksanaan yang dilakukan J Trust kepada para nasabahnya," kata Hendrawan kepada wartawan, Kamis (28/2/2019).

Hendrawan menuturkan, pihaknya menunggu aduan resmi dari para nasabah J Trust untuk selanjutnya melihat duduk perkara persoalan nasabah.

Menurutnya, hal ini penting agar tidak menimbulkan kerancuan berkepanjangan, karena itu seluruh pihak terkait masalah ini akan dipanggil untuk dimintai keterangan.

"Kami menunggu aduan resmi pada waktunya. Ini masih reses dan sebagian besar sibuk kampanya di dapil. Semua nanti kita lihat. Bagaimana duduk perkaranya, apakah sesuai dengan peraturan dan regulasi yang ada," kata Hendrawan.

Sebelumnya, Priscillia Georgia, nasabah Bank J Trust mengaku diperlakukan semena-mena J Trust Invesment Indonesia. Alih-alih restrukturisasi, J Trus Invesment justru menyita rumah.

Priscillia tidak sendirian. Sebab itu dia berencana mengadukan masalah ini ke DPR. "Saya akan adukan ini ke DPR sebagai wakil rakyat, dan Ombudsman untuk meneliti malpraktik. Juga mengadukan ini ke OJK untuk menindaklanjuti prilaku bank dan nonbank atas sikap J Trust yang tidak menerima iktikad baik," ujarnya kepada wartawan di Jakarta.

Priscillia mengatakan, sebagai perusahaan asing yang bergerak di usaha perbankan, seharusnya J Trust tidak semena-mena terhadap nasabah WNI.
Tidak sedikit nasabah menderita hal yang sama. Bedanya nilai yang Priscillia perjuangkan Rp1,8 miliar. Sementara yang lain ada yang menyentuh Rp 28 miliar-Rp500 miliar.

"Karena itu kami menuntut keadilan agar tidak ada korban dari nasabah lain senasib seperti saya. Sementara langkah hukum saat ini adalah menggugat sita eksekusi itu pada tahap banding, kami akan terus melawan memakai instrumen hukum," tuturnya.

Priscillia telah melayangkan upaya banding atas putusan PN Cibinong Kelas 1A Nomor 169/Pdt.Bth/2018/PN.Cbi. Sengketa berawal dari mekanisme pelimpahan kredit KPR dari PT Bank J Trust kepada J Trust Investment Indonesia.

Padahal nasabah bernama Priscilla Georgia menyebutkan bahwa dirinya melaksanakan akad pada 2011 dengan Bank Mutiara dan tidak pernah melibatkan J Trust Investment Indonesia (J Trust). Akadpun disebut Priscilla dengan skema cicilan Rp 21 juta per bulan.

Dia mengaku tidak mendapatkan pemberitahuan mengenai pelimpahan kredit dari Bank Mutiara kepada J Trust Investment Indonesia atas piutangnya. Masalah bermula saat pihak J Trust Investment Indonesia menagih Priscilla secara cash and carry piutang yang belum dibayarkan.

Jumlah piutang Priscilla yang bermula Rp 1,8 miliar menjadi Rp 3,7 miliar dan tuntutan untuk membayar secara cash and carry membuatnya melayangkan gugatan ke PN Cibinong. Priscilla menjelaskan bahwa sebelumnya ia sudah mencicil utangnya total sebesar Rp 300 juta.

Sebelum melayangkan gugatan guna mempertahankan rumahnya, Priscilla mengaku telah melakukan beberapa iktikad baik untuk melunasi utangnya, namun tidak disetujui oleh pihak J Trust.

"Awalnya saya berbicara dengan mereka bahwa saya akan membayar DP Rp 200 juta cash, sisanya saya cicil per bulan Rp 20 juta senilai Rp 1,8 miliar. Itu ditolak, saya kirimkan surat melalui pengacara. Lalu, saya mendatangi sendiri J Trust Investment untuk bertemu pimpinannya dan menawarkan Rp 1,5 miliar, dengan skema selama setahun dibayar Rp 125 juta per bulan. Dengan catatan saya tidak miss selama 12 bulan, tapi ditolak. Saya bilang kalau tetap mau cash and carry saya bayar Rp 600 juta, tapi ditolak, sampai kami masuk ke ranah pengadilan," terangnya.

Pihak J Trust tetap berpegang bahwa Priscilla harus membayar cash and carry. Hingga akhirnya pihak J Trust menyebutkan jika Priscillia ingin mengambil kembali rumah tersebut harus membayar Rp 3,7 miliar secara tunai.

Gugatan berlangsung dan dimenangkan oleh pihak J Trust, bahkan sita eksekusi atas rumah yang ditinggali Priscilla sudah ditetapkan melalui Penetapan Nomor 09/PN.Pdt/Sta.Eks.Akte/2018/PN.Cbi tertanggal 23 Maret 2018. Upaya hukum perlawanan yang dilayangkan Priscilla terhadap penetapan sita kembali menuai penolakan dari majelis.

Kuasa hukum Priscilla, M Holid menyatakan kliennya tak pernah mendapatkan pemberitahuan akan adanya pelimpahan piutang yang seharusnya menjadi keharusan pihak kreditur. [tar]


Komentar

Embed Widget
x