Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 Maret 2019 | 10:17 WIB

Untung-Rugi Investor Asing Kuasai Unicorn

Oleh : Indra Hendriana | Minggu, 3 Maret 2019 | 14:05 WIB

Berita Terkait

Untung-Rugi Investor Asing Kuasai Unicorn
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Berkembangnya unicorn atau perusahaan yang memiliki kapitasisasi kapitalisasi di atas US$1 miliar di Indoenaia sempat jadi perbincangan hangat. Ini karena saham perusahaan itu mayoritas dikuasai asing.

Lalu, kenapa pemodal asing lebih tertarik menanamkan investasi dari pada investor dalam negeri? Pengamat Ekonomi dari Univeraitas Indonesia (UI), Fithara Faisal Hastadi, menilai hal ini karena pemodal dalam negeri belum begitu menguasai bisnis digital ini.

"Kalau saya melihat karena ekosistem kita belum terbentuk. Jadi para pemodal dari dalam negeri belum memahami betul-betul bisnis starup kita, karena ekosistem kita yang masih terbatas yang kemudian para starup mencari pendanaan dari luar (negeri)," kata Faisal, Minggu (3/3/2019).

Datangnya investor asing itu tentu, kata dia, akan membawa dampak baik pada perekonomian dalam negeri. "Dengn investasi itu akan ada penciptaan lapangan kerja dan penigkatan transaksi ekonomi," ujar dia.

Tapi, ada juga dampak buruknya, yakni ada saat mereka menarin keuntungan atau deviden, membuat juga berpengaruh pada perekonomian daan negeri. Antara lain, membuat transaksi dalam negeri defisit.

"Di sisi lain juga yang harus diperhatikan mereka juga menarik deviden, mengambil keuntungan. Dan itu juga kalau dilihat dari current invesment akan membuat devisit current account, karena memang mereka mengambil keuntungan dari kita," kata dia.

Hal ini tentunya akan membuat delima bagi pemerintah. "Memang harus ditimbang-timbang baik buruknya. Tapi yang jelas mereka (pengusaha) tidak bisa disalahkan, karena pendanaanya selama ini berasal dari luar negeri. Dari dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan mereka," ujar dia.

Dia sebelumnya mengatakan peringatan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, berkaitan banyak investor global atau asing ingin memiliki saham perusahaan teknologi rintisan Indonesia skala besar Unicorn untuk mengincar data itu benar adanya.

"Saya rasa kekhawatiran (Sri Mulyani) itu valid. Karena memang kebanyakan dari unicorn itu basisnya user," kata dia.

Sebab, dengan memiliki saham Unicorn, mereka akan leluasa melihat data dari kegiatan ekonomi di Indonesia. Dari data itu mereka akan mengolah dan menjadi produk yang menguntungkan.

"Jadi mereka bergeraknya lebih ke user base dan kecenderungan kalau kita berbicara user base itu adalah datanya yang sangat kaya," ujar dia.

"Ketika investor masuk disitu mereka bisa jadi memanfaatkannya. Jadi kan pada akhirnya kita bicara the new currency atau uang baru adalah ya sekarang data atau kata Bu Sri Mulyani bahasanya lebih kepada tambang minyak baru," kata dia.

Sri Mulyani sebelumnya mengingatkan banyak investor global yang ingin memiliki saham perusahaan teknologi rintisan Indonesia skala besar atau "unicorn" karena mengincar kepemilikan data kegiatan ekonomi masyarakat yang kemudian dapat diolah menjadi produk menguntungkan.

Sri Mulyani mengatakan tidak perlu heran jika melihat saat ini banyak perusahaan "unicorn" (perusahaan rintisan bervaluasi di atas satu miliar dolar AS), yang diminati investor global, padahal perusahaan tersebut tergolong baru dan belum begitu menjanjikan.

Investor-investor tersebut, kata Menkeu, mengincar kekayaan data yang dimiliki perusahaan "unicorn". Data yang merekam kegiatan ekonomi, terutama kegiatan konsumsi dan transaksi masyarakat, kata Sri, menjadi komoditas baru yang berharga dalam kegiatan ekonomi saat ini.

"Begitu banyak 'unicorn' kita yang masih baru, begitu banyak orang investasi di sana, mereka hanya 'membakar' uang, karena mereka 'pengen' tahu 'mining'-nya (penambangan data) ketika itu menjadi sebuah aset. Kemudian, valuasi asetnya akan muncul dan aset itu yang diincar," ujarnya. [hid]

Komentar

Embed Widget
x