Find and Follow Us

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 14:57 WIB

PLTA Batangtoru Parameter Pemanfaatan EBT di Sumut

Senin, 4 Maret 2019 | 01:29 WIB
PLTA Batangtoru Parameter Pemanfaatan EBT di Sumut
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Medan - Provinsi Sumatera Utara bakal menjadi tolok ukur dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru di Tapanuli Selatan (Tapsel).

Sesuai rencana, PLTA Batangtoru menghasilkan setrum sebesar 510 Mega Watt (MW) saat beroperasi pada 2022. Masyarakat sekitar dilanda antusias dengan kehadiran megaproyek yang memanfaatkan aliran air sungai Batangtoru ini, dan menaruh harapan besar.

Salah seorang warga Kecamatan Marancar, Tapsel, Syaiful Wahyu menyatakan, saat ini, masyarakat Sumatera Utara butuh dukungan listrik untuk kehidupannya. Anak-anak sekolah butuh listrik saat belajar. Listrik juga dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. "Tanpa listrik, berarti anak-anak harus menggunakan lampu pelita. Ini kembali ke tahun 1960-an," katanya, Minggu (3/3/2019).

Sebelumnya Bupati Tapsel, Syahrul M Pasaribu menyatakan, proyek strategis nasional ini, nantinya bisa menjawab kebutuhan listrik di Sumut. Dia pun meminta pihak perusahaan membuka akses jalan dan fasilitas lainnya di lokasi proyek.

Syahrul menyatakan, proyek PLTA Batangtoru akan memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat lokal. Selain akan memacu pertumbuhan ekowisata, proyek ini akan menyedot tenaga kerja dalam jumlah besar. "Menjelang puncak pengerjaan, tenaga kerja akan terus bertambah. Bisa seribuan orang," kata Syahrul.

Pernyataan senada pernah disampaikan Wakil Ketua Bidang Energi & Mineral Kadin Sumut, Tohar Suhartono bahwa PLTA Batangtoru selain bisa memenuhi kebutuhan listrik, juga akan sangat pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan.

"Dengan tersedianya energi dari PLTA Batangtoru berdaya 510 MW, pemerintah bisa menghemat anggaran dengan menghentikan sewa kapal pembangkit yang selama ini ditempatkan di Belawan untuk memenuhi kebutuhan energi di Sumut," katanya.

Terkait isu negatif yang dilontarkan Walhi, warga Batangtoru, Abdul Gani Batubara mengatakan, seluruh warga sangat paham kondisi yang ada di lokasi pembangunan proyek. Sejumlah isu lingkungan yang disampaikan Walhi termasuk kerusakan lingkungan, hutan serta kepunahan Orangutan Tapanuli, sejauh ini belum terbukti.

"Apa yang disampaikan bohong. Tak ada di sana kematian orangutan, hutan masih sangat luas. Kami sering bertemu orangutan, dan tidak ada satupun yang kami ganggu, kami lindungi," katanya.

Walhi pun dinilai menyakiti hati warga Batangtoru terkait pernyataan Manajer Hukum Lingkungan dan Litigasi Walhi, Ronald M Siahaan. Pernyataan tersebut dinilai sangat menghina warga. [tar]


Komentar

x