Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 12:59 WIB

Walhi Gagal Setop Proyek Setrum Ramah Lingkungan

Selasa, 5 Maret 2019 | 17:18 WIB
Walhi Gagal Setop Proyek Setrum Ramah Lingkungan
facebook twitter

INILAHCOM, Medan - Ratusan warga dari Tapanuli Selatan (Tapsel), menggelar aksi damai di Bank of China, kawasan Raden Saleh, Medan, Sumatera Utara, Selasa (5/3/2019). Aksi ini bukan untuk protes apalagi melawan. Tapi...

Ya, kegiatan ekstra parlementer kali ini memiliki pesan khusus. Yakni, mendukung kebijakan bank tersebut untuk mendanai proyek pembangkit listrik ramah lingkungan bernama PLTA Batangtoru yang kini sedang berproses.

Para demonstran yang berasal dari tiga kecamatan, yakni Sipirok, Marancar dan Batangtoru (Simarboru), meneriakkan dukungan agar Bank of China tetap menjalankan komitmen kerja sama dengan pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan proyek PLTA Batangtoru berkapasitas 510 Mega Watt (MW). Di mana yang menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk mengendalikan perubahan iklim.

"Kami mendukung Bank of China agar tetap melaksanakan kerja sama, demi tersedianya listrik bersih bagi masyarakat," kata koordinator aksi, Abdul Gani Batubara.

Gani menjelaskan, berlanjutnya pembangunan PLTA Batangtoru, sejatinya sesuai keinginan seluruh masyarakat yang ada di Simarboru. Mereka yakin, pembangunan PLTA Batangtoru akan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Diakui, warga sempat dilanda galau ketika ada gugatan Walhi Sumatera Utara terhadap proyek tersebut. Mereka heran, karena Walhi justru berupaya menggagalkan proyek untuk mengatasi masalah perubahan iklim atau climate change, proyek yang menggunakan energi terbarukan.

Untungnya, kata dia, gugatan itu kandas pada Senin (4/3/2019) setelah majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan menolak gugatan itu. "Gugatan Walhi sudah ditolak PTUN Medan, itu yang juga kami sampaikan juga kepada pihak Bank of China," ujarnya.

PLTA Batangtoru menjadi bagian dari implementasi strategi Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab bencana perubahan iklim. Proyek tersebut dirancang bisa mengurangi emisi GRK hingga 1,6 juta metrik ton setara CO2 per tahun dan bisa menghemat hingga Rp5 triliun per tahun jika dibandingkan penggunaan pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil. Sebagai catatan, Indonesia sudah berkomitmen untuk memangkas emisi GRK sebanyak 29% pada 2030 dengan upaya sendiri.

Masyarakat Simarboru, menurut Gani, menyerukan agar tidak ada lagi yang mempersoalkan proyek tersebut. Pasalnya, proyek tersebut sudah mempunyai dasar hukum kuat. Apalagi, masyarakat sangat mendukung proyek tersebut demi tersedianya pasokan listrik.

"Kami minta tidak ada lagi yang memprotes pembangunan itu, andai ada yang lain yang protes-protes, nanti masyarakat yang akan hadapi," katanya.

Putusan PTUN Medan juga disambut gembira masyarakat adat di Batangtoru. Raja Luat Sipirok, Edward Siregar yang bergelar Sutan Parlindungan Suangkupon, berharap, putusan ini segera ditindaklanjuti dengan mempercepat pembangunan PLTA Batangtoru. "Kami sangat gembira berarti proyek itu akan jalan terus. Kepada pihak yang ditolak untuk segera menerima hasil putusan sehingga pembangunan berjalan sesuai harapan. Karena dukungan masyarakat otomatis akan semakin kuat juga," kata dia. [tar]


Komentar

Embed Widget
x