Find and Follow Us

Jumat, 24 Mei 2019 | 03:11 WIB

Neraca Dagang 2018 Terjeblok

Era Jokowi Surganya Barang-Barang Impor

Oleh : Herdi Sahrasad | Selasa, 12 Maret 2019 | 05:09 WIB
Era Jokowi Surganya Barang-Barang Impor
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Tiga tahun belakangan, perekonomian nasional di era Joko Widodo terus memburuk. Neraca perdagangan 2018 defisit US$8,57 miliar ketimbang 2017 yang justru surplus US$11,8 miliar.

Di sinilah salah satu poin kegagalan tim ekonomi Jokowi dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional. Termasuk membangun perekonomian yang kuat serta berdaulat. Lho kok bisa?

Ekonom senior nan kritis, Faisal Basri menyebut kinerja neraca perdagangan 2018 adalah yang terburuk sepanjang sejarah Indonesia merdeka. "Sejak merdeka, defisit perdagangan hanya 7 kali. Tahun 2018 defisit perdagangan terburuk sepanjang sejarah," cuit Faisal dalam akun twitter-nya, beberapa waktu lalu.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Indonesia mengalami 6 kali defisit perdagangan dalam 73 tahun terakhir. Yakni, defisit perdagangan pada 1945, 1975, 2012, 2013, 2014, dan 2018.

Nah, apabila ditilik lebih dalam, defisit perdagangan pada 2018 adalah yang terparah. Di sinilah bukti bahwa Nawa Cita Jokowi hanyalah slogan hampa, tanpa realita. Sebab, nilai impor naik lebih kencang ketimbang ekspor. Menggambarkan bahwa perekonomian nasional sangat tergantung negara lain, jaud dari kata mandiri.

Selain itu, defisit neraca perdagangan pada 2018 adalah kali pertama dalam empat tahun terakhir. Entah karena tim ekonomi Jokowi kecolongan atau memang kapasitasnya jauh dari mumpuni.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada 2018, melompat 20,15% menjadi US$188,63 miliar. Sementara nilai ekspor hanya tumbuh 6,65% menjadi US$180,06 miliar. Alhasil, tercipta defisit US$8,57 miliar.

Nah, dari empat kali defisit neraca perdagangan dalam satu dekade terakhir, era Jokowi adalah tang terburuk. Impor aneka komoditas terjadi dengan sangat massif. Bisa jadi tingginya impor ada benang merahnya dengan agresifnya sang presiden membangun infrastruktur di sana-sini.

Celakanya lagi, impor pangan tak mau kalah. Kontribusi sepanjang 2018 cukup besar. Sehingga jangan protes apabila era Jokowi bakal masuk catatan sejarah. Sebagai rezim yang defisit neraca perdagangannya paling buruk.

Kali ini, pemerintah tak menampik ataupun membenarkan terkait defisit Neraca perdagangan 2018 adalah yang terjeblok dalam sejarah Indonesia. Salah satu rekor tertinggi yang dilakukan Indonesia adalah impor gula. Indonesia tercatat sebagai importir gula terbesar di dunia.

Berdasarkan data yang dirilis Statista, Indonesia tercatat sebagai negara pengimpor gula terbesar. Sepanjang 2017-2018, total impor gula mencapai 4,45 juta ton. Mengalahkan China yang diimpornya 4,2 juta ton atau Amerika Serikat (AS) sebesar 3,11 juta ton.

Menko Ekuin Darmin Nasution menjelaskan, impor gula untuk industri diberikan berdasarkan rekomendasi Kementerian Perindustrian. Berdasarkan data yang dihimpun IDN Times, total impor beras dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, yakni sejak 2015 hingga 2018, adalah sebesar 4,7 juta ton.

Sedangkan, pada 2010 hingga 2014, impor beras mencapai 6,5 juta ton. Total impor akan terus menjulang jika pemerintah mengulang kembali di tahun ini.

"Namun, dengan jumlah stok yang relatif memadai yaitu 2,1 juta ton di akhir 2018, diperkirakan pemerintah tak perlu memerlukan impor di 2019. Kecuali, terjadi krisis besar," tutur Anggota Ombudsman RI Ahmad Alamsyah Saragih.

Sedangkan untuk impor gula, selama kurun waktu 2015 hingga 2018 mencapai total 17,2 juta ton atau lebih tinggi 4,5 juta ton dibandingkan periode 2010-2015 yang mencapai 12,7 juta ton. Pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) disinyalir menjadi penyebab peningkatan jumlah impor, mengingat produksi gula domestik belum mampu mengejar standar yang diperkirakan industri.

Impor garam sepanjang 2015 hingga 2018 juga mengalami kenaikan dengan angka total sebesar 12,3 juta ton. Puncak impor garam terjadi pada 2018 sebanyak 3,7 juta ton. Tahun ini impor garam diperkirakan tetap akan menjadi opsi pemerintah. Alasannya klasik, memenuhi kebutuhan industri di tanah air.

Nasib beda, impor jagung mengalami penurunan sepanjang 2015 hingga 2018, yaitu hanya 5,7 juta ton. Atau lebih rendah dibandingkan 2010 hingga 2014 yang mencapai 12,9 juta ton. Penurunan drastis terjadi pada 2016, karena pemerintah membatasi impor hanya 1,3 juta ton.

Kalau tahun sebelumnya impor jagiung dibatasi 3,3 juta ton. Alasannya, produksi dalam negeri meningkat dan sebagai upaya melindungi petani.

Masih kata Faisal, tren kenaikan impor gula menjelang pemilihan umum layak dipertanyakan. Bukan tak munkin bersemayam praktik culas yakni rente di balik impor gula. Jadi, jangan kaget kalau terjadi bolong besar di neraca perdagangan 2018.

defisit Menurut dia, pemerintah belum bisa sepenuhnya menekan defisit perdagangan apabila tidak memerangi praktik perburuan rente, dan mengganti Menteri Perdagangan.

"Saya baru bisa menyampaikan seperti di Twitter. Sebaiknya diinvestigasi. Hal serupa juga terjadi pada impor garam, besi, dan juga ban," demikian Faisal.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance, Rusli Abdullah, menilai ketidakakuratan data permintaan dan penawaran gula yang belum aktual menjadi penyebab impor tinggi. Hal tersebut sering terjadi pada komoditas yang melibatkan tanah sebagai produksi. "Untuk masalah konsumsi gula, terkadang data dari kita masih belum bisa menuju pada tahap yang aktual," kata dia.

Selain itu, sejumlah faktor yang turut memengaruhi adalah keterbatasan lahan dan kapasitas mesin pabrik yang tidak optimal. Di Indonesia, Rusli melanjutkan, tidak semua pabrik beroperasi penuh karena kurangnya pasokan tebu. Sehingga kinerja pabrik tidak dalam kondisi full capacity. Apalagi tebu merupakan tanaman musiman.

Benar, bahwa kebutuhan gula industri cukup besar, khususnya untuk industri makanan dan minuman. Sejauh ini, produksi gula dalam negeri hanya cukup untuk kebutuhan konsumsi. Untuk tahun ini, kebutuhan gula untuk industri mencapai 3,6 juta ton.

Namun, kalau Jokowi tidak membangun sektor pangan agar bisa mandiri,.maka ketergantungan pada asing melalui impor pangan, bakal membuat rupiah terus lemah dan ekonomi kian tak mandiri.

Ke depan, sektor pangan harus digenjot dengan produksi dalam negeri, dan pekerjaan rumah ke depan adalah pendalaman sektor riil yang memiliki nilai tambah, diversifikasi komoditas, perambahan wilayah ekspor baru, dan substitusi aktivitas ekonomi yang banyak menggunakan bahan baku domestik. [ipe]



Komentar

Embed Widget
x