Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 Maret 2019 | 10:23 WIB

Neraca Dagang Februari, Ada Kabar Baik dari BPS

Oleh : M Fadil Djailani | Jumat, 15 Maret 2019 | 13:50 WIB

Berita Terkait

Neraca Dagang Februari, Ada Kabar Baik dari BPS
Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto - (Foto: Inilahcom/M Fadil Djailani)

INILAHCOM, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya surplus neraca dagang pada Februari 2019, sebesar US$33 juta. Meski tipis lumayanlah.

Kondisi surplus ini boleh dibilang kabar baik, mengingat dalam kurun waktu 4 bulan berturut-turut, neraca dagang Indonesia selalu dilanda defisit.
Lantas apa yang menyebabkan neraca dagang berbalik surplus?

Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto mengungkapkan, surplusnya neraca dagang ini karena kinerja ekspor lebih baik sedikit ketimbang impor. Di mana, pada Februari 2019 neraca ekspor tercatat US$12,53 miliar, sementara neraca impor US$12,2 miliar.

"Ini berita yang baik, karena kondisi ini akan mempengaruhi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2019," kata Kecuk panggilan akrabnya saat konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Kecuk menjelaskan, surplus ini ditopang oleh ekspor non migas yang mengalami surplus US$790 juta. Sementara itu, ekspor migas masih mengalami defisit senilai US$460 juta.

Defisit di dalam neraca migas tersebut disebabkan oleh defisit minyak mentah dan hasil minyak. Adapun hasil gas masih menunjukkan posisi surplus.

Secara lebih terperinci, BPS mencatat nilai ekspor Februari 2019 sebesar US$12,53 miliar atau menurun 10,03% dibandingkan posisi bulan sebelumnya. Menurut dia, penurunan ini disumbang oleh penurunan ekspor migas dan non migas.

Jika dibandingkan tahun lalu, penurunan terjadi lebih tajam yakni sebesar 11,3%. Berdasarkan polanya, dia menuturkan penurunan ekspor selalu terjadi pada Februari karena jumlah hari yang lebih pendek pada bulan tersebut.

Berdasarkan sektor, ekspor migas masih mengalami penurunan 11,85% menjadi US$1,09 miliar pada Februari 2019 dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, penurunannya tercatat lebih tajam yakni mencapai 21,75%.

Sementara itu, ekspor sektor pertanian mengalami penurunan 17,4% menjadi US$230 juta dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini didorong oleh penurunan hasil hutan bukan cengkih, biji kakao, dan tembakau.

Dari sektor pengolahan, ekspor Indonesia mengalami penurunan 7,71% menjadi US$9,41 miliar dari posisi Januari 2019. Adapun penurunan tahunannya lebih besar, yakni menyentuh 8,06%.

Sektor pertambangan juga turun cukup dalam, yaitu sebesar 18,76% menjadi US$1,8 miliar pada Februari 2019. Secara tahunan, penurunan sektor ini lebih dalam, yaitu sebesar 20,8%.

Berdasarkan tujuan ekspor, performa ekspor Indonesia ke AS turun cukup dalam sebesar US$238,7 juta pada Februari 2019. Ekspor ke China juga mengalami penurunan hingga US$191,1 juta.

Kecuk menerangkan penurunan ini dipicu oleh kondisi perlambatan ekonomi global. Lebih lanjut, BPS mencatat impor per Februari 2019 sebesar US$12,2 miliar atau turun 18,61% dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, impor turun sebesar 13,89% dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu.

Secara pola, sama seperti di sisi ekspor, BPS melihat impor Februari selalu mengalami penurunan akibat jumlah hari yang lebih sedikit.

Dari penggunaannya, impor konsumsi mengalami penurunan 17,43% menjadi US$1,01 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, impor barang konsumsi juga turun cukup dalam, yakni mencapai 26,94%.

Khusus impor barang baku dan bahan penolong, nilainya mengalami menyusut 21,11% menjadi US$9,01 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, impor barang modal tercatat terpangkas 7,09% menjadi US$2,19 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. [ipe]




Komentar

Embed Widget
x