Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 Maret 2019 | 10:16 WIB

BPS: Perdagangan Februari 2019 Sama-sama Lesu

Oleh : M Fadil Djailani | Jumat, 15 Maret 2019 | 15:54 WIB

Berita Terkait

BPS: Perdagangan Februari 2019 Sama-sama Lesu
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2019 mencapai US$330 juta. Sayangnya, surplus tersebut diraih dari kinerja ekspor dan impor yang tak begitu menggembirakan.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) di bulan Februari 2019, terlihat kinerja ekspor mencapai US$12,53 miliar atau menurun 10,03% dibanding ekspor Januari 2019. Demikian juga dibanding Februari 2018 menurun 11,33%.

Kondisi yang sama juga terjadi pada kinerja impor, di mana pada bulan tersebut impor tercatat US$12,2 miliar atau turun 18,61% dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, impor turun sebesar 13,89% dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu.

"Surplus terjadi karena impornya turun tajam dan ekspornya juga turun," kata Kepala BPS Suhariyanto di Kantornya, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Jika dilihat lebih dalam lagi ekspor nonmigas Februari 2019 mencapai US$11,44 miliar, turun 9,85% dibanding Januari 2019. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Februari 2018, turun 10,19%.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Februari 2019 mencapai US$26,46 miliar atau menurun 7,76% dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$24,14 miliar atau menurun 7,05%.

Penurunan terbesar ekspor nonmigas Februari 2019 terhadap Januari 2019 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$282,1 juta (14,54 %), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$227,5 juta (53,03%).

Sedangkan impor dipengaruhi oleh konsumsi yang mengalami penurunan 17,43% menjadi US$1,01 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, impor barang konsumsi juga turun cukup dalam, yakni mencapai 26,94%.

Khusus impor barang baku dan bahan penolong, nilainya mengalami menyusut 21,11% menjadi US$9,01 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, impor barang modal tercatat terpangkas 7,09% menjadi US$2,19 miliar dibandingkan bulan sebelumnya

Meski mengalami kinerja yang sama-sama turun, Kecuk panggilan akrab Suhariyanto tetap mengapresiasi apa yang dilakukan pemerintah demi menyelamatkan kondisi neraca dagang yang terus mengalami defisit transaksi.

"Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan, salah satunya melalui mekanisme menaikan pajak impor barang mewah. Ini sudah baik, namun masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilanjutkan agar momentum ini bisa terus terjaga," kata dia.


Komentar

Embed Widget
x