Find and Follow Us

Jumat, 24 Mei 2019 | 02:56 WIB

Begini Jurus Kementan Stabilkan Harga Daging Ayam

Sabtu, 16 Maret 2019 | 01:29 WIB
Begini Jurus Kementan Stabilkan Harga Daging Ayam
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, melakukan sejumlah langkah berbasis kemitraan peternakintegrator guna stabilkan harga daging ayam.

Direktur Jenderal PKH, I Ketut Diarmita dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (15/3/2019), mengatakan, para integrator diminta untuk memaksimalkan kapasitas pemotongan di Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan kapasitas cold storage. "Hasil usaha sebaiknya tidak lagi dijual sebagai ayam segar atau fresh commodity, melainkan ayam beku, ayam olahan, ataupun inovasi produk lainnya," ujarnya.

Selain itu, Diarmita meminta integrator untuk tidak menjual ayam hidup ke pasar tradisonal. Jika hal itu dilaksanakan dengan baik, harga di peternak (Farm Gate) dapat segera kembali normal.

Langkah lain yang dilakukan adalah Ditjen PKH menginstruksikan penundaan setting telur ayam tetas atau Hetching Egg (HE) selama 1-2 minggu untuk semua perusahaan Parent Stock.

Selain itu, pihaknya mengimbau para pelaku usaha pembibit untuk meningkatkan kualitas anak ayam umur sehari ( DOC/Day Old Chicken) dengan menerapkan sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI).

"DOC itu seharusnya berkualitas A. Kalau kualitas di bawah itu, seperti B dan C, maka akan membutuhkan pakan lebih banyak dan produktivitasnya pun rendah. Agar biaya produksi rendah, maka DOC harus memiliki grade A," ujar I Ketut.

Lebih lanjut, dia mengharapkan para pelaku usaha, terutama integrator untuk dapat memanfaatkan secara optimal peran duta ayam dan telur dalam rangka promosi konsumsi produk unggas serta menggalakkan kampanye konsumsi protein hewani agar dapat mendongkrak naiknya konsumsi per kapita per tahun.

Menurut dia, dengan meningkatnya konsumsi protein hewani maka akan berdampak terhadap peningkatan permintaan produk hewan, termasuk daging unggas, sehingga dapat meningkatkan serapan pasokan unggas di dalam negeri.

"Saya berharap semua pihak perunggasan terutama industri perunggasan terus meningkatkan kampanye tentang pentingnya konsumsi protein hewani," katanya.

Pihaknya juga mengimbau pemerintah daerah untuk melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap budidaya ayam ras, serta pendataan para peternak dan populasi ayam ras di wilayahnya, baik peternak mandiri maupun milik integrator.

Selain itu, Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota dan seluruh Pejabat Fungsional Pengawas Bibit ternak serta fungsional teknis lain yang tersebar di seluruh provinsi maupun kabupaten/kota untuk melakukan pengawasan di kandang-kandang yang ada di wilayahnya. Pengawasan tersebut dilakukan sesuai dengan Permentan No. 32 Tahun 2017 tentang penyediaan, peredaran, dan pengawasan ayam ras.

Sementara itu para pelaku usaha (stake holders) diminta agar tahun-tahun berikutnya dapat mengukur jumlah "check-in" ayam khususnya pada bulan Januari agar tidak terjadi kejadian yg sama seperti tahun ini dan demi menjaga keseimbangan produksi dan permintaan.

Per 1 Maret 2019, Ditjen PKH mewajibkan para integrator menyampaikan laporan produksi DOC setiap bulan melalui pelaporan online, termasuk tujuan distribusinya. [tar]

Komentar

x