Find and Follow Us

Jumat, 24 Mei 2019 | 03:05 WIB

Indef: Unicorn Indonesia Belum Pantas Dibanggakan

Sabtu, 16 Maret 2019 | 02:29 WIB
Indef: Unicorn Indonesia Belum Pantas Dibanggakan
Ekonom Senior Indef, Fadhil Hasan

INILAHCOM, Jakarta - Berkembangnya unicorn, atau perusahaan rintisan yang nilai kapitalisasi asetnya di atas US$1 miliar, belum bisa menjadi kebanggaan. Sebab, mayoritas saham unicorn Indonesia dikuasai asing.

"Orang sibuk dengan unicorn, seolah-olah sesuatu yang membanggakan, kita memiliki unicorn empat buah di asia dan akan bertambah. Tapi apakah diketahui bahwa dari sisi ownership uniorn itu bukan kita yang memilki. Itu dikiliki oleh asing," kata Ekonom Senior Indef, Fadhil Hasan, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Menurut dia, apabila mayoritas saham unicorn itu dimiliki dalam negeri, hal itu baru bisa dibanggakan. Tapi, nyatanya orang Indonesia hanya menjadi pekerja pada unicorn itu sendiri. "Jadi ujicor yang ada di kita itu bukan kita yang memiliki. Ini saya kira disatu sisi kita bangga, tapi disisi lainnya tidak prerlu dibanggakan, penemu itu memiliki saham yang sangat kecil. Mereka (hanya) sebagai karyawan perusahaan," ujar dia.

Selain itu, yang lebih mengkhawatirkan adalah, dalam bisnis e-comers (online) hampir 90 persen barangnya bukan dari dalam negeri. Melainkan diimpor dari luar negeri. "Hampir 90% barang diperdagangkan bukan barang diproduksi oleh kita. Itu merupakan impor terutama dari Cina," ujar dia.

Dengan demikian, kata dia, pada konteks digital ekonomi, Indonesia hanya menjadi pasar di negaranya sendiri. Bukan bagian dari yang menentukan dalam transaksi itu.

Melihat kondisi seperti ini, dia berharap kedepan pemerintah bisa menciptakan ekosistem investasi yang konduaif. Dan mampu memberikan perlisungan kepada pengusaha dalam negeri. Khususnya di bidang e-commerce. "Jangan sampai kemudian kita sekedar menjadi pasar di negeri itu sendiri," kata dia. [ipe]

Komentar

x