Find and Follow Us

Kamis, 23 Mei 2019 | 03:04 WIB

Ekonomi Bandara Soetta Bergantung Tol Soedijatmo

Minggu, 17 Maret 2019 | 18:46 WIB
Ekonomi Bandara Soetta Bergantung Tol Soedijatmo
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Sejak 2016, layanan di ruas Tol Prof Soedijatmo yang menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) terus mengalami peningkatan. Roda perekonomian menggeliat di sekitar ruas tol ini.

Hal itu diungkapkan oleh Pengamat Perkotaan dan Dosen Teknik Planologi Universitas Trisakti, Yayat Supriatna di Jakarta. Kata dia, perkembangan Bandara Soekarno-Hatta sangat bergantung pada kondisi Tol Soedijatmo yang dikelola PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Di mana, kawasan bandara kini telah tumbuh dan berkembang menjadi kawasan Aerocity, pada posisi tersebut Tol Soedijatmo menjadi tulang punggung pertumbuhan kawasan sekitarnya.

"Volume bangkitan perjalanan menuju Bandara saat ini telah melayani lebih dari 66 juta penumpang, diperkirakan pada tahun 2025 seiring dengan pengembangan Terminal IV Bandara Soekarno-Hatta akan melayani 100 juta penumpang. Lonjakan dan pertumbuhan yang sangat meningkat ini membutuhkan perhatian dan dukungan pemeliharaan yang maksimal agar pengguna jalan Tol Soedijatmo tetap memperoleh pelayanan sesuai SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang telah ditetapkan," ujar Yayat, beberapa waktu lalu.

Berbagai upaya pemenuhan SPM Tol Soedijatmo, kata dia, telah dilakukan Jasa Marga sejak Oktober 2016, hingga saat ini. Semisal untuk layanan konstruksi, meliputi perjaan pemeliharaan scraping filling overlay dan rekonstruksi; antisipasi genangan dampak curah hujan tinggi; monitoring kondisi saluran/drainase dan tanggul; normaliasai reservoir Simpang Susun Penjaringan KM 26+000; beautifikasi di ruas jalan tol; penataan lansekap pada area GT Kapuk dan KM 20+000 hingga KM 32+000; pemeliharaan penerangan jalan tol; pemeliharaan kebersihan gerbang tol dan gardu tol; serta pencucian lajur transaksi di gerbang tol.

Untuk layanan transaksi, Jasa Marga telah mengoperasikan 7 Gardu Tol OAB (Oblique Approach Booth) di Gerbang tol Cengkareng untuk menambah kapasitas transaksi; pengoperasian 18 Mobile Reader untuk meningkatkan kapasitas transaksi; melakukan integrasi tarif tol pada GT Kamal 1 dan 3, semula hanya mentransaksikan tarif Tol Soedijatmo menjadi mentransaksikan dua tarif yakni Tol Soedijatmo dan JORR integrasi.

Hal itu dilakukan guna mengurangi titik transaksi pada arah menuju JORR W1; pengoperasian 4 titik top up tunai: GT Cengkareng (2 unit), GT Kapuk (1 unit), GT Kamal 1 (1 unit); serta peningkatan kapasitas transaksi pada GT Kamal 1 yang semula 7 Gardu menjadi 9 Gardu Operasi.

Sementara itu, upaya pemenuhan SPM pada layanan lalu lintas juga dilakukan, diantaranya meliputi pengecetan marka jalan tol dan pemenuhan terhadap Permenhub No. 67 Tahun 2018; penyesuaian Rambu Petunjuk Arah Jurusan sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No.13 Tahun 2014; pengadaan dan pemasangan pagar rumija, pengadaan dan pemasangan guard rail serta reflektor; melakukan penertiban kendaraan beban berlebih (Over Load) secara berkala; pekerjaan beautifikasi di Gerbang Tol (pengecatan kanstin, bullnose, MCB, selasar) dan pengecatan guardrail; serta implementasi Early Warning System Ruas Tol Sedyatmo (prioritas arah bandara).

Terkait upaya pemenuhan SPM, Yayat mengungkapkan, bukan hal yang mudah bagi Jasa Marga untuk melakukan hal itu, mengingat dukungan biaya operasional yang dikeluarkan juga cukup besar seiring dengan peningkatan volume kendaraan yang melintasi Tol Soedijatmo.

Di sisi lain, pengelola jalan tol harus memprioritaskan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan tol. "Untuk menjaga kualitas jalan yang prima, dan kondisi uang layak membutuhkan partisipasi masyarakat. Masyarakat butuh kecepatan dan kenyamanan, sementara jalan butuh kondisi yang prima. Sinergi kedua komponen ini menjadi hal penting demi menjaga kualitas jalan Tol Soedijatmo," tandas Yayat. [tar]

Komentar

x