Find and Follow Us

Selasa, 24 September 2019 | 16:51 WIB

Diskresi Perum Bulog Impor Bawang Putih Disoal

Kamis, 21 Maret 2019 | 07:27 WIB
Diskresi Perum Bulog Impor Bawang Putih Disoal
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah disarankan mencabut diskresi kepada Perum Bulog untuk importasi bawang putih tanpa syarat seperti importir lainnya.Begini alasannya.

Dengan perlakuan tak adil ini, Bulog dengan mudahnya bisa impor 100 ribu ton bawang putih tanpa harus menanam 5%, sesuai Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) Permentan Nomor 38 Tahun 2017.

"Enak banget BUMN itu, enggak boleh kayak gitu. Kalau begitu kita bikin BUMN aja sebanyak-banyaknya. Swasta dimatikan. Ini enggak sehat nih. Ini harus diusut KPPU," tegas Direktur Center For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi kepada wartawan, Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Ia menyarankan kebijakan ini segera dicabut, atau dibatalkan. Alasannya, akan melahirkan persaingan usaha yang tidak sehat, antar BUMN atau dengan swasta.

Selain itu, lanjut Uchok, nasib petani bawang putih, semakin sengsara lantaran tidak adanya subtitusi penanaman bawang putih dari proses impor yang dilakukan.

Kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan bahkan Ombudsman, dirinya mendesak kebijakan ini diselidiki. "Iya ini makin kacau aja kalau kayak begitu. Tidak ada persaingan usaha. Harusnya semua melalui lelang atau tender. Jangan kayak gini, ini enggak sehat," kata Uchok.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah di kesempatan berbeda menilai, impor 100 ribu ton bawang putih oleh Perum Bulog adalah langkah terpaksa. Demi, memenuhi kebutuhan dalam negeri yang hampir 90% diimpor.

Ia mengakui, ada mengemuka juga ketidakpuasan pengusaha terhadap keistimewaan tidak wajib tanam yang diberikan kepada Bulog. "Kalau Bulog kemudian impor dan tidak dikenakan kewajiban tanam 5 persen, lalu importir merasa cemburu, nanti bisa-bisa impotir lapor ke WTO. Hal ini pernah terjadi di bidang susu. Waktu itu importir susu juga dipaksa bermitra, ini membatasi mereka, akhirnya mereka laporkan ke WTO karena ada persaingan yang tidak sehat," tuturnya.

Diakui Rusli, industri susu memang beda dengan bawang, karena kebutuhannya lebih tinggi dan terkait protein. Namun jika kebutuhan bawang putih terus meningkat, bisa saja para importir melapor ke WTO.

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa mengakui, ketersediaan bawang putih di Indonesia sebenarnya tidak bisa lepas dari impor. Bahkan kata dia, hampir 560 ribu ton bawang putih didapatkan dari impor setiap tahunnya.

Menurutnya, tingginya lonjakan harga bawang putih pada awal tahun ini disebabkan karena terlalu optimisnya Kementerian Pertanian akan produksi dalam negeri. Diakuinya, Peraturan Menteri Pertanian nomor 38 tahun 2017 tentang rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH).

Di mana, para importir diwajibkan menanam sebanyak 5% dari volume pengajuan impor, adalah hal yang baik. Namun, bukan berarti ini menjadi jaminan. Sehingga dia berpendapat, terdapat kekacauan dalam perencanaan tata kelola bawang putih. "Sekarang kita seolah-olah impor dalam jumlah besar, dan itu sangat merugikan presiden," imbuhnya.

Terkait dengan penugasan Bulog untuk melakukan impor 100 ribu ton bawang putih, dia mewanti-wanti jangan keputusan tersebut justru semakin membenani kerja Bulog. "Tapi kalau tidak punya infrastruktur terkait, ya tentu biaya tinggi, karena harus pinjam gudang yang cocok untuk bawang outih, cost lagi disana. Sehingga tujuan utama untuk amankan pasokan bawang putih jadi terganggu," kata Andreas.

Masalah distribusi dari Bulog ke tingkat pasar juga harus dipertimbangkan secara matang. "Belum lagi masalah jaringan distribusinya. Karena tidak mungkin Bulog petugasnya diturunkan jualan bawang putih di pasar," katanya.

Menko Perekonomian, Darmin Nasution sebelumnya memerintahkan Perum Bulog mengimpor bawang putih sebanyak 100.000 ton. Impor ini untuk mengendalikan harga bawang putih yang mengalami kenaikan. Bulog, dalam impor kali ini diberikan keleluasaan tanpa harus memenuhi syarat tanam, 5% dari impor yang dilakukan, sebagaimana dilakukan wajib oleh pihak swasta. [tar]

Komentar

x