Find and Follow Us

Jumat, 19 Juli 2019 | 06:01 WIB

43 Perusahaan dan 2 Koperasi Raih Sertifikat ISPO

Rabu, 27 Maret 2019 | 17:50 WIB
43 Perusahaan dan 2 Koperasi Raih Sertifikat ISPO
Aziz Hidayat, Kepala Sekretariat Komisi ISPO

INILAHCOM, Jakarta - Hari ini (Rabu, 27/3/2019), penerima sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) bertambah 45 lembaga. Sebagian besar perusahaan, hanya dua yang berbentuk koperasi.

Aziz Hidayat, Kepala Sekretariat Komisi ISPO, mengapresiasi capaian ini. Artinya, segenap pelaku industri sawit berkomitmen untuk menegakkan prinsip-prinsip suistability. "Hari ini kita patut bersyukur, tanpa terasa ISPO sudah berjalan selama 8 tahun. Telah diserahkan pula 45 sertifikat ISPO," kata Aziz di Jakarta.

Sebanyak 45 Sertifikat ISPO itu, diserahkan kepada 43 perusahaan perkebunan dan 2 koperasi swadaya. Dengan luas areal perkebunan 287.196 hektar. Terdiri dari tanaman menghasilkan seluas 215.463 hektar, produksi Tandan Buah Segar atau TBS 2.987.522 ton/tahun, serta produksi minyak mentah sawit atau Crude Palm Oil (CPO) sebesar 550.920 ton/tahun.

Hingga saat ini, jumlah sertifikat ISPO yang telah diterbitkan Komisi ISPO mencapai 502 sertifikat. Terdiri dari 493 perusahaan, 5 koperasi swadaya, dan 4 KUD Plasma. Dengan luas total areal 4.115.434 hektar.

Di mana, lahan yang sudah menghasilkan seluas 2.765.569 hektar, total produksi TBS 52.209.749 ton/tahun, dan CPO sebanyak 11.567.779 ton/tahun. produktivitas 18,81 ton/hektar, rendemen rata-rata 22,23%.

Selain itu, Komisi ISPO memberikan pengakuan terhadap 2 Lembaga Pelatihan ISPO yaitu Mutu Institut-PT Forestcitra Sejahtera dan PT Sinergi Satya Santosa.

Aziz menjelaskan, penyerahan ini menunjukkan bahwa implementasi percepatan sertifikasi ISPO, menunjukkan hasil yang signifikan. Dan, telah sejalan dengan arah kebijakan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian yang juga Ketua Komisi ISPO.

Berkaitan percepatan sertifikasi ISPO dengan berbagai upaya antara lain meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pelaku usaha perkebunan untuk sertifikasi ISPO. Kemudian, pemberdayaan pekebun untuk persiapan penerapan ISPO; meningkatkan koordinasi dengan K/L terkait, Pemerintah Provinsi/Kabupaten, dan BPDP KS.

Adapula kerja sama dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gaoki) untuk capacity building, berupa workshop ISPO atau coaching clinic ISPO pada cabang GAPKI di daerah; koordinasi dengan Lembaga Sertifikasi secara intensif, dan kerja sama dengan lembaga internasional, maupun LSM/CSO dengan tujuan pemberdayaan pekebun, pengkajian, dan promosi.

Perkembangan lainnya pada awal Desember 2018, telah ditandatangani MoU antara Direktorat Jenderal Kementerian Pertanian, selaku Scheme Owner ISPO dengan Badan Standarisasi Nasional (BSN) untuk pelaksanaan kerjasama dalam Pengem bangan Sistem Sertifikasi ISPO. "Saat ini tim Pengembangan mulai menyusun draf pengembangan sistem sertifikasi," pungkas Aziz. [tar]

Komentar

x