Find and Follow Us

Senin, 22 April 2019 | 02:24 WIB

Punya Menkeu Terbaik, Ekonomi RI Kok Makin Suram?

Minggu, 7 April 2019 | 04:09 WIB
Punya Menkeu Terbaik, Ekonomi RI Kok Makin Suram?
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Saya tidak tahu, kenapa pemberian gelar menteri keuangan terbaik se-Asia Pasifik kepada Sri Mulyani Indrawati, berdekatan dengan debat capres putaran kelima yang bertema ekonomi dan keuangan?

Apakah agar calon presiden petahana Joko Widodo terkesan lebih berwibawa dalam menyampaikan "keberhasilan" pembangunan ekonomi dan keuangan? Lantaran, era pemerintahan Widodo, sang menkeu dinobatkan menjadi yang terbaik dalam 3 tahun berturut-turut.

Bukan tidak mungkin, cara ini merupakan bagian dari strategi untuk memuluskan capres petahana melanjutkan kepemimpinannya yang kedua. Kalau menang, sangat terbuka bagi Sri Mulyani untuk bertahan di posisi menteri keuangan, atau bahkan naik menjadi Menko Perekonomian.

Tapi, saya lebih tertarik untuk membedah "keberhasilan" dari sang menkeu. Faktanya, sektor ekonomi dan keuangan Indonesia semakin suram saja. Lho, kok bisa? Berikut ulasannya.

1. Imbal Hasil (Yield)
Saat ini, imbal hasil atau yield surat utang yang dikeluarkan kementerian keuangan, adalah yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini akan mencekik Indonesia di masa mendatang.

Untuk surat utang baru, kemenkeu mematok yield sebesar 8%. Angka ini jauh di atas yield surat utang (tenor 10 tahun) sejumlah negara jiran. Sebut saja Vietnam hanya 4,8%. Atau Thailand 2,5%; Malaysia 3,8%; Singapura 2,1%; dan Filipina 5,6%.

Padahal, Vietnam dan Filipina itu, rating surat utangnya di bawah Indonesia. Namun mereka memilih mematok yield yang rendah.

Banyak kalangan berpendapat, besarnya imbal hasil surat utang, beda tipis alias 'beti' dengan suku bunga acuan yang ditetapkan bank sentral. Biasanya sih yield surat utang lebih besar meski tipis.

Beberapa negara seperti Vietnam, China, Hongkong, Taiwan, dan Qatar bahkan memasang imbal hasil di bawah suku bunga bank sentral. Tapi Indonesia, yield-nya malah jauh di atas suku bunga acuan.

Apapun itu, hal yang pasti adalah: tingginya kupon surat utang Indonesia dalam jangka panjang akan menyebabkan Indonesia membayar utang lebih mahal dari negara-negara di kawasan.

Sebagai contoh, setelah saya simulasikan dengan perbandingan Vietnam, selisih yieldnya dengan RI 3,2% untuk surat utang bertenor 10 tahun. Hasilnya, Indonesia harus membayar lebih mahal 135% ketimbang Vietnam. Apakah ini tidak mencekik kita?

Kalau Indonesia buntung lantaran bunga surat utang yang mencekik leher, lalu, siapakah yang untung? Ya, jelaslah mereka adalah para pelaku pasar uang internasional. Termasuk pemilik majalah yang rajin memberi gelar kepada menteri keuangan Indonesia.

2. Tax Ratio
Tax ratio Indonesia, saat ini, adalah yang terendah di kawasan Asia Tenggara. Alhasil, pertumbuhan ekonomi di tanah air, cenderung mandek di level 5%.

Di mana, rasio pendapatan pajak terhadap PDB atau tax ratio Indonesia berada di kisaran 10%-11%. Cukup rendah dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Perlu diketahui, besaran tax ratio (tanpa PNBP) Indonesia di era Jokowi adalah yang terendah setelah era reformasi. Perbandingan saja, tax ratio Vietnam 13,8%; Thailand 17%; Filipina 14,4%; Singapura 14,2%; dan Malaysia 15,5%.

Tidak perlu-lah kita bandingkan dengan tax ratio negara maju di Asia yang sempat menikmati pertumbuhan ekonomi double digit selama belasan tahun. Misalnya, tax ratio Jepang mencapai 35%; Korea Selatan 34%. Indonesia layak minder.

Rendahnya tax ratio Indonesia menyebabkan sempitnya ruang pendapatan negara yang menjadi sumber pendanaan bagi pembangunan. Yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi. Maka, jangan berharap bisa terjadi pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa peningkatan yang signifikan dari tax ratio.

3. Defisit Transaksi Berjalan
Ini masalah serius, defisit transaksi berjalan Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Alhasil, resiko makroekonomi Indonesia paling rentan di kawasan.

Hal yang paling berbahaya dalam kerentanan makro ekonomi adalah besaran current account defisit (CAD) atau defisit transaksi berjalan. Catatannya, defisit transaksi berjalan Indonesia kuartal III-2018 mencapai US$8,8 miliar (minus). Hanya Filipina (US$ -1,2 miliar) yang menemani Indonesia, sesama penderita defisit transaksi berjalan.

Sementara negara lain bisa meraih sukses mendapatkan surplus. Sebut saja Malaysia US$3 miliar; Thailand US$2,6 miliar; Vietnam US$1,2 miliar; dan Singapura US$17 miliar. Semakin negatif transaksi berjalan, maka semakin rentan makro ekonomi negara tersebut.

Karena, mata uang semakin melemah sehingga negara tersebut berpotensi tertimpa krisis mata uang. Kalau dibiarkan bisa saja menjelma menjadi krisis keuangan.

Penguatan yang terjadi pada mata uang Indonesia dalam 6 bulan terakhir, lebih disebabkan karena masifnya pemerintah menarik surat utang dari pasar dengan bunga yang tinggi. Bila yang diterbitkan surat utang dalam mata uang rupiah, para pelaku pasar uang, bakal ramai-ramai menukar mata uang asing untuk membeli rupiah. Agar bisa membeli surat utang berbunga tinggi tersebut.

Namun, bila yang diterbitkan surat utang berbentuk valuta asing, maka masuknya dana asing akan menambah cadangan devisa (cadev) bank sentral yang dapat digunakan untuk stabilkan rupiah. Perlu diwaspadai, strategi menarik banyak utang ebrbunga tinggi ini untuk menjaga nilai tukar, adalah sebuah "bom waktu" yang dapat meledak kapan saja.

4. Net International Investment Position (NIIP)

Paling Negatif di Kawasan Asia Tenggara membuat Indonesia paling tekor. Di mana, NIIP adalah selisih dari aset finansial dikurangi liabilitas (kewajiban) finansial suatu negara terhadap negara-negara lain di dunia.

Negara dengan NIIP surplus atau positif, maknanya, negara tersebut memiliki pengelolaan keuangan dan investasi yang menguntungkan. Sebaliknya, apabila NIIP sebuah defisit (negatif), maka negara tersebut merugi atau tekor.

Seperti diduga, NIIP Indonesia adalah yang paling negatif, defisitnya terbesar di kawasan, yaitu sebesar US$-297 miliar. Disusul Filipina US$-34 miliar, Thailand US$-24 miliar, Malaysia US$-18 miliar, Myanmar US$-18 miliar, Kamboja US$-15 miliar. Yang mengagetkan Timor Leste malah surplus US$17,5 miliar, Singapura surplus US$836 miliar.

Khusus Singapura masuk 5 besar negara Asia dengan NIIP tertinggi, bersama negara-negara yang produk, investasi, dan keuangannya merajai dunia: Jepang (US$2.932 miliar), China (US$1.692 miliar), Hongkong (US$1.302 miliar) dan Korea Selatan (US$340 miliar).

Penulis: Gede Sandra, Dosen FE-Universitas Bung Karno (Pergerakan Kedaulatan Rakyat)

Komentar

Embed Widget
x