Find and Follow Us

Senin, 26 Agustus 2019 | 02:07 WIB

Kalau Nego Sawit di UE Mentok, Luhut Siapkan Ini

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 8 April 2019 | 18:30 WIB
Kalau Nego Sawit di UE Mentok, Luhut Siapkan Ini
Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan - (inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintahan Joko Widodo terus memperjuangkan agar Uni Eropa (UE) melunak. Penolakan terhadap minyak sawit untuk biofuel dicabut. Bagaimana kalau gagal?

Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah akan terus melakukan negosiasi terkait diskriminasi minyak sawit oleh Uni Eropa.

Namun, jika deadlock alias menemui jalan buntu, di mana Delegated Regulation Supplementing Directive of The UE Renewable Energy Directive (RED) II akhirnya disetujui Parlemen Uni Eropa, pemerintah akan mengajukan gugatan ke European Court. Demi memperjuangkan nasib minyak sawit, khususnya petani kecil yang terkena dampak dari ketentuan tersebut.

"Kita dengan Malaysia betul-betul ingin agar jangan sampai itu dilakukan, tentu ada negosiasi. Tapi kalau ini masih berlanjut kita mungkin pergi ke European Court, mungkin nanti ke WTO," kata Luhut di Jakarta, Senin (8/4/2019).

Menurut Luhut, proses gugatan di European Court lebih singkat dibanding harus meminta keadilan melalui jalur WTO. Di mana gugatan ke World Trade Organization (WTO) bisa memakan waktu bertahun-tahun.


Opsi lain seperti keluar dari Perjanjian Paris (Paris Agreement), menurut Luhut, juga dipertimbangkan dalam rangka melawan tekanan Uni Eropa. "Opsi keluar dari Paris Agreement, kenapa tidak? Amerika saja bisa, Brasil saja bisa kok. Kenapa kita tidak bisa? Penghasil karbon ini sekarang paling banyak kan hutannya Indonesia, Brasil, sama Kolombia. Kolombia punya hutan juga besar. Jadi semua negara berkembang yang kena," katanya.

Untuk mengantisipasi berkurangnya pasar Uni Eropa, tentu Indonesia akan menyasar pasar lain dan terus menggenjot penggunaan sawit di dalam negeri. "B20, B30, hingga nanti B100 atau green energy itu akan didorong," ujarnya.

Sejauh ini, Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat untuk menyampaikan keberatan terkait diskriminasi produk minyak kelapa sawit dan turunannya kepada Uni Eropa melalui surat yang ditandatangani bersama oleh Presiden Jokowi dan PM Mahathir Mohamad.

Keberatan disampaikan pemerintah Indonesia dan Malaysia ini, merupakan sikap yang ditegaskan demi kepentingan petani sawit yang menggantungkan hidup mereka pada industri tersebut. Indonesia bersama Malaysia merupakan negara pemasok 85% produk minyak sawit dunia.[ipe]

Komentar

x