Find and Follow Us

Rabu, 26 Juni 2019 | 14:09 WIB

Akses Pelabuhan Marunda tak Sebanding Ambisinya

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 9 April 2019 | 02:09 WIB
Akses Pelabuhan Marunda tak Sebanding Ambisinya

INILAHCOM, Jakarta - Setiap hari, tidak kurang 100 truk berukuran jumbo hilir-mudik mengangkut berbagai aneka komoditas curah di Pelabuhan Marunda.

Dari tahun ke tahun, aktivitas bongkar muat curah di pelabuhan ini, terus meningkat. Itu bisa dilihat dari jumlah truk yang keluar-masuk terus bertambah. Setidaknya ada dua Badan Usaha Pelabuhan yang beroperasi di Marunda yang telah mendapatkan konsesi, yaitu PT Karya Citra Nusantara (KCN) dan Marunda Center Terminal.

Berdasarkan catatan, pada 2018 saja, pelabuhan Marunda melayani aktivitas bongkar curah sebesar 50an juta ton, meningkat tajam dari tahun sebelumnya yang menyentuh angka 30-an juta ton.

Ketua Umum Indonesia Shipowner Association (INSA), Carmelita Hartoto mengatakan, keberadaan Marunda menjadi sangat strategis bagi Pelabuhan Tanjung Priok. Karena letak geografisnya yang tidak terlalu jauh dari Tanjung Priok. Untuk itu, Pelabuhan Marunda memiliki potensi yang sangat besar untuk bisa berkembang.

Namun, Carmelita menggarisbawahi bahwa salah satu daya tarik bagi pelaku bisnis untuk memanfaatkan jasa bongkar muat di Pelabuhan Marunda adalah aktivitas distribusi kargo. "Peningkatan infrastruktur di terminal, juga akses jalan menuju lokasi," kata Carmelita, Jakarta, Senin (8/4/2019).

Harus diakui, kondisi jalan di Pelabuhan Marunda tak berbanding lurus dengan ambisi untuk menjadikannya sebagai penopang Pelabuhan Tanjung Priok. Khususnya akses untuk kendaraan yang akan bongkar-muat komoditas curah. Ya, karena jalannya mengalami kerusakan.

Menurut KSOP Marunda, Iwan Soemantri, jalan masuk ke Pelabuhan Maruda, bukanlah tanggung jawab pihaknya. Namun menjadi tanggungan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN), selaku pemilik lahan.

Meski demikian, Iwan mengaku telah berkoordinasi dengan pihak KBN selaku penanggung jawab jalan akses tersebut dan juga pihak KCN dan selaku pengelola pelabuhan mengenai permasalahan kondisi akses jalan ke pelabuhan Marunda tersebut.

Berdasarkan penelusuran, bukan kali ini saja situasi jalan akses ke Pelabuhan Marunda khususnya ke pelabuhan KCN ini bermasalah. Akses jalan itu juga pernah menjadi "korban" konflik Marunda yang terjadi sejak 2012 ini.

Pada 2013, KBN pernah menutup akses masuk ke pelabuhan KCN dengan menggunakan mobil pemadam kebakaran. Akibatnya, aktivitas di pelabuhan KCN sempat berhenti selama berbulan-bulan sehingga harus dialihkan ke pelabuhan lain. Tak kurang dari Kementerian Perhubungan turun tangan saat itu meminta kepada KBN untuk membuka akses.

Kondisi serupa juga pernah terjadi pada 2017. Saat itu, truk-truk yang disewa KCN untuk melanjutkan pembangunan pelabuhan, sempat dihentikan dan dilarang masuk oleh pihak KBN yang saat itu beralasan bahwa pembangunan tersebut tidak dilengkapi dokumen perizinan. Akibatnya, proses pembangunan sempat terhenti. [ipe]

Komentar

x