Find and Follow Us

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 01:44 WIB

Revitalisasi Pasar Harus Beri Nilai Tambah ke UKM

Selasa, 9 April 2019 | 12:41 WIB
Revitalisasi Pasar Harus Beri Nilai Tambah ke UKM
(Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM Victoria br Simanungkalit menegaskan revitalisasi pasar rakyat harus bisa memberikan manfaat pada UKM yang berdagang di tempat itu maupun masyarakat sekitar.

"Ukuran keberhasilan revitalisasi pasar rakyat itu bukan hanya perbaikan infrastruktur pasar saja, namun juga harus mampu meningkatlan nilai tambah pada UKM yang berdagang di sana. Omsetnya harus naik, juga adakah tambahan penyerapan tenaga kerja di sana," kata Victoria br Simanungkalit dalam acara Sinergitas Sosialisasi Penajaman Program Tugas Pembantuan Revitalisasi Pasar Rakyat yang dikelola koperasi, revitalisasi pasar rakyat di daerah tertinggal perbatasan dan pasca bencana, serta Penataan PKL, di Jakarta, Senin (9/4/2019).

Hadir dalam acara itu staf ahli Menkop dan UKM Teguh Boediyana, Kabiro Perencanaan Ahmad Zabadi dan sekutar 100 kadinas koperasi dan UKM kabupaten/kota selindo.

Menurut Victoria sejauh ini Kemenkop dan UKM sudah melalukan revitalisasi pasar sebanyak 789 unit di 389 kabupaten/kota. Dari jumlah sebanyak itu, diakui, ada koperasi yang sukses dalam mengelola pasar, ada juga yang belum banyak memberikan manfaat bagi UKM dan rakyat sekitar. "Ini yang harus kita evaluasi bersama kenapa sampai pasar itu banyak yang kosong pedagangnya, dan tidak menarik. Apa pengelolanya yang ndak benar atau sebab yang lain," katanya.

Victoria menilai secara umum revitalisasi pasar rakyat yang dilakukan selama ini cukup bagus. Namun, dari sisi peningkatan nilai tambah bagi UKM sempat, masih perlu dioptimalkan.

"Produk UKM lokal belum banyak yang berkembang bahkan cenderung menggelar karpet merah untuk produk impor. Lihat saja dari keset, sapu, bulu ayam, pakaian batik bahkan diimpor, dan dijual disana," katanya.

Untuk itulah kata Victoria, ke depan revitalisasi pasar akan dikembangkan juga melalui pendekatan tematik. Dalam hal ini produk produk lokal UKM setempat akan diprioritaskan untuk di jual di pasar rakyat, berikut juga budaya lokalnya akan dikembangkan juga. Dengan demikian pasar rakyat tak hanya sebagai tempat jual beli namun juga bisa menjadi tempat destinasi wisata.

Sementara itu Kabiro Perencanaan Ahmad Zabadi meminta koperasi pengelola pasar rakyat harus serius dalam mengelola pasar yang sudah direvitalisasi. "Kalau pengelolaaannya ndak bener, saya sarankan daerah itu jangan lagi di kasih anggaran revitalisasi pasar. Kita semua ingin kepercayaan yang diberikan harus dijalankan dengan baik," kata Zabadi.

Karena itu Zabadi meminta dinas koperasi dan UKM setempat untuk intens mengawasi dan membina koperasi pengelola pasar agar tujuan revitalisasi pasar dalam memberikan manfaat lebih pada UKM dan rakyat setempat tercapai.

Sementara itu staf ahli Menkop dan UKM Teguh Boediyana mengatakan, lembaga koperasi seharusnya sudah bisa mengambil peluang mengelola pasar sejak puluhan tahun lalu, saat banyak dibangun pasar Inpres. Namun peluang itu tidak dimanfaatkan secara optimal sehingga pasar-pasar itu dikelola pihak lain dan kini banyak yang kurang terurus.

"Kalau dikelola oleh koperasi saya kira banyak manfaatnya, karena bisa membangun sense of belonging, pelayanan juga bisa menjadi optimal, juga bisa men create value jasa-jasa untuk kepentingan bersama," katanya.

Teguh menegaskan, meski gagal memanfaatkan momentum ketika banyak dibangun pasar Inpres, namun peluang bagi koperasi untuk mengelola pasar masih terbuka luas. "Inpres 112/2007 juga Perda Perda masih memberikan peluang bagi koperasi memgelola pasar, kini tinggal bagaimana melakukan pendekatan ke Pemda," kata Teguh.

Terkait penataan PKL, Teguh mengatakan, masalah PKL tidak mudah namun perlu langkah-langkah penataan, karena PKL itu non tarif barrier atau tidak ada hambatan. Dikaitkan dengan kelembagaan, perlu didorong adanya kumpulan/asosiasi, dan setelah itu diarahkan untuk membenuk koperasi. [*]

Komentar

x