Find and Follow Us

Sabtu, 25 Mei 2019 | 01:16 WIB

Ekspor Bakal Mampu Berkelit di Situasi Sulit?

Rabu, 10 April 2019 | 20:31 WIB
Ekspor Bakal Mampu Berkelit di Situasi Sulit?
(Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Neraca Perdagangan (NP) pada Maret akan mengalami surplus. Menurut data Customs-Excise Information System and Automation (CEISA), posisi NP bulan Maret 2019 berada di teritori positif.

"Kinerja tersebut melanjutkan tren positif bulan sebelumnya, meskipun secara year to date NP masih berstatus defisit. Prediksi surplus itu, berdasar pada pola periode-periode sebelumnya yang memperlihatkan tren ekspor kuartal pertama yang selalu mencapai puncaknya di bulan Maret," ungkap Kepala Seksi pada Direktorat Penerimaan dan Perencanaan Strategis Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Gatot Priyoharto, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/4/2019).

Namun di tengah kabar gembira itu, lanjut Gatot, muncul kekhawatiran terhadap kinerja ekspor nasional. Karena meskipun pola ekspor masih relatif serupa di kuartal 1, tetapi size ekspor bulan Maret tahun 2019 merupakan yang terendah selama 3 tahun terakhir. "Bila dilihat lebih dalam, pelemahan ekspor berasal dari sektor-sektor pendorong utamanya," jelasnya.

Ia menambahkan, sektor manufaktur yang merupakan kontributor terbesar, mengalami tekanan sehingga tumbuh negatif. Masih lesunya harga komoditas, ditambah perlakuan tidak adil negara tujuan ekspor, berdampak negatif pada ekspor sektor pertanian dan kehutanan.

"Sektor pertambangan pun setali tiga uang, keputusan perusahaan tambang di Papua untuk beralih dari tambang terbuka menjadi under ground, menjadi salah satu penyebab sektor ini mengalami tekanan terdalam dibanding 2 sektor sebelumnya," katanya.

Tantangan juga datang dari situasi ekonomi dunia. IMF baru-baru ini memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk yang semula 3,5 persen menjadi 3,3 persen saja. Negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia juga diprediksi melemah, seperti Amerika Serikat semula 2,5% menjadi 2,3%, pun demikian dengan Tiongkok dan Jepang yang tidak lebih baik.

"Jangan berharap pada Uni-Eropa, karena UE tengah menghadapi kemungkinan perang dagang dengan AS di tengah melemahnya ekonomi Jerman, sang mesin utamanya. Perang dagang yang disulut kegeraman AS yang mengetahui UE memberikan subsidi kepada Airbus sang kompetitor Boeing. Padahal saat ini Boeing tengah menghadapi masalah berat, yang mengharuskannya mengurangi produksi pesawat tipe tertentu, sehingga menambah tekanan pada ekonomi AS," papar Gatot.

Apabila kembali melihat pola eksportasi, maka bulan April ini kinerja ekspor kemungkinan mengalami perlambatan secara month to month (mtm) cukup besar. Perubahan struktur ekonomi yang signifikan belum nampak hingga saat ini, padahal kebutuhan atas barang impor untuk memenuhi industri dan pasar dalam negeri (DN) masih tinggi. "Akibatnya, NP bulan April diperkirakan akan (kembali) berada di posisi negatif," imbuhnya.

Namun demikian, lanjutnya, masih ada kabar gembira yang terselip, seperti importasi bahan baku dan penolong yang masih mendominasi. Hal ini mengindikasikan bahwa industri masih menggeliat, dan diharapkan mulai dapat mengisi kebutuhan barang konsumsi DN yang impornya mengalami tekanan terdalam. Bahkan importasi dengan tujuan ekspor (fasilitas) tumbuh positif, ditengah penurunan kinerja importasi. Indikasi ini membuka harapan bahwa ekspor Indonesia masih berpotensi untuk tumbuh, terutama disektor manufaktur.

Alhasil, harapan saat ini, katanya, hanya pada kemampuan domestik, yang sedang mengalami pergolakan ekonomi dan politik. Ia berharap pesta demokrasi yang tinggal hitungan hari, dengan munculnya perbedaan pandangan politik menambah beban ekonomi. [*]

Komentar

x