Find and Follow Us

Senin, 27 Mei 2019 | 17:40 WIB

Budi Paksa Tiket Murah, Maskapai Siap-siap Tutup

Senin, 22 April 2019 | 07:09 WIB
Budi Paksa Tiket Murah, Maskapai Siap-siap Tutup
(Foto: inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah sebagai regulator, sejatinya tak bisa berbuat banyak dalam menekan harga tiket penerbangan semurah mungkin. Kalau dipaksakan banyak maskapai yang bangkrut.

"Kalau menurut apa yang berlaku di seluruh dunia harga apapun termasuk tiket pesawat, regulator itu tidak bisa menekan mengatur-atur," kata Pengamat penerbangan Arista Atmajati, Jakarta, Minggu (21/4/2019).

Regulator, kata dia, hanya bisa mengatur batas atas dan bawah tarif pesawat. Selanjutnya, maskapai menjual tiket sesuai koridor yang sudah dibuat pemerintah. "Kalau melanggar ya kena sanksi. Selama dia tidak melanggar kan sekarang memang cenderung di batas atas terus ya pasti maskapai ada alasannya," ujar Arista.

Jika nantinya maskapai mengikuti untuk menjual harga tiket murah, namun menganggu keuangannya, kata dia, maka pemerintah atau regulator tidak bisa bertanggung jawab.

Suka atau tidak, kata dia, sudah banyak maskapai yang terpaksa gulung tikar lantaran dililit masalah keuangan nan serius. Semisal, Merpati, Mandala Air, Adam Air, dan maskapai lainnya. "Kalau bangkrut kan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga nggak ada satu kalimat ucapan bela sungkawa juga. Boro-boro bantu, ucapan bela sungkawa juga nggak," ungkap Arista.

Untuk itu, Arista menegaskan, pemerintah tidak perlu menerapkan subclass untuk maskapai, jika tidak menurunkan tarif tiket pesawat. Hal tersebut tidak pernah diberlakukan di negara manapun, karena berhubungan dengan kelangsungan bisnis maskapai.

Sebelumnya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengingatkan Garuda Indonesia melakukan penarifan tiket pesawat lebih tuntas. "Disampaikan bahwa sub price itu sudah dilakukan tapi saya menganggap apa yang dilakukan belum clear," ungkap Budi.

Budi menginginkan, maskapai mencantumkan tarif tiket pesawat yang disertai dengan beberapa kelas. Dengan begitu, kata Budi, masyarakat saat membeli tiket pesawat tinggal memilih sesuai kelas yang ada.

Sementara Budi menganggap selama ini maskapai belum melakukan hal tersebut. "Kemarin itu nggak jelas, sekarang saya minta lebih jelas supaya ada porsi untuk mereka yang bisa dijangkau oleh masyarakat banyak termasuk lima sampai 10 persen di tarif batas bawah," jelas Budi.[tar]

Komentar

x