Find and Follow Us

Sabtu, 25 Mei 2019 | 01:24 WIB

Menteri Jokowi Terseret Suap Aturan Gula Rafinasi?

Oleh : Iwan purwantono | Senin, 22 April 2019 | 15:09 WIB
Menteri Jokowi Terseret Suap Aturan Gula Rafinasi?
Anggota DPR Bowo Sidik Pangarso - (Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Dugaan adanya menteri bidang ekonomi dari Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang terlibat politik uang di Pemilu 2019, mulai terungkap di KPK. Benarkah?

Tentunya tak sedang bercanda, Anggota DPR Bowo Sidik Pangarso menyebut menerima duit Rp2 miliar dari seorang anggota Kabinet Kerja Jokowi. Di mana, sang menteri yang dicap gemar impor ini, minta pengamanan regulasi di DPR. Dan, dana sebesar Rp2 miliar diberikan berbentuk dolar Singapura. Demikian dikutip dari Tempo.co, Jakarta, Senin (22/4/2019).

Menurut sumber Tempo, Jumat (19/4/2019), Bowo mengungkapkan hal itu saat diperiksa penyidik KPK pada Selasa (9/4/2019). Dalam pemeriksaan, Bowo memaparkan, uang tersebut kemudian menjadi bagian dari duit Rp8 miliar yang dimasukan Bowo ke dalam 400 ribu amplop untuk serangan fajar di Pemilu 2019.

Dalam pemeriksaan 9 April 2019, Bowo bersatus tersangka kasus suap kerja sama pengangkutan pupuk antara PT Pupuk Indonesia Logistik dan PT Humpuss Transportasi Kimia. Di mana, Bowo disangka menerima total Rp1,2 miliar dari Manager Marketing PT HTK Asty Winasti untuk membantu perusahaan kapal itu memperoleh kontrak pengangkutan pupuk.

Namun, KPK menduga Bowo tak cuma menerima uang dari satu sumber, karena lembaga anti-rasuah itu mendapatkan bukti telah terjadi penerimaan lain terkait jabatan BSP, selaku anggota DPR. Berbekal bukti itu, tim penindakan KPK pada 28 Maret 2019 bergerak ke kantor PT Inersia Tampak Engineer di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.

Di sana, KPK menyita 400 ribu amplop berisi pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu dengan jumlah Rp 8 miliar. KPK menengarai Bowo akan membagikan uang itu saat hari pencoblosan untuk serangan fajar. Bowo adalah calon legislatif inkumben dari daerah pemilihan Jawa Tengah II.

Kepada penyidik saat diperiksa, Bowo mengaku, uang Rp2 miliar diterima dari sang menteri untuk pengamanan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16/M-DAG/PER/3/2017 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi Melalui Pasar Lelang Komoditas, yang akan berlaku akhir Juni 2017.

Saat itu Bowo merupakan pimpinan Komisi VI DPR yang salah satunya bermitra dengan Kementerian Perdagangan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Diduga, sang menteri meminta Bowo mengamankan Permendag itu karena adanya penolakan dari sebagian besar anggota dewan dalam rapat dengar pendapat yang berlangsung awal Juni 2017. Dewan beranggapan gula rafinasi yang masuk pengawasan pemerintah tak seharusnya dilelang secara bebas dalam kendali perusahaan swasta.

Kepada penyidik, Bowo mengatakan pada masa istirahat RDP, menteri tersebut menghampirinya lalu mengatakan bahwa nanti akan ada yang menghubunginya. Beberapa pekan kemudian, orang kepercayaan sang menteri menghubungi Bowo dan mengajak bertemu di Hotel Mulia, Jakarta Selatan, pada pertengahan Juni 2017. Saat itulah, Bowo menerima uang Rp2 miliar dalam pecahan dolar Singapura.

Menurut pengacara Bowo, Saut Edward Rajagukguk, kliennya kemudian menyimpan uang itu ke dalam tabungan untuk persiapan dana Pemilu 2019. "Si menteri tidak mengetahui uang ini kemudian ditaruh ke dalam amplop," kata dia.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengaku belum mengetahui pengakuan Bowo tersebut. "Saya cek dulu," katanya. Sementara juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan lembaganya telah memiliki bukti sumber lain penerimaan Bowo, meski enggan merinci hal tersebut. "Masih di dalami penyidik," kata dia. [ipe]


Komentar

Embed Widget
x