Find and Follow Us

Rabu, 18 September 2019 | 17:29 WIB

Menanti Bos Baru BUMN Setrum, Siapa Dia?

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 24 April 2019 | 14:15 WIB
Menanti Bos Baru BUMN Setrum, Siapa Dia?
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menepatkan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir sebagai tersangka kasus dugaan suap pembangunan PLTU Riau-1.

Penetapan tersangka ini, setelah penyidik KPK mendapat sedikitnya dua alat bukti yang cukup untuk menjerat Sofyan Basir. KPK menduga Sofyan ikut terlibat dalam kasus ini. Status dia pun ditingkatkan jadi tersangka.

Tentu saja, perkembangan status hukum Sofyan, berdampak kepada lowongnya kursi Dirut PT PLN (Persero). Pergantian ini tentunya bertujuan agar operasional industri setrum pelat merah ini, tetap berjalan normal.

Lalu, siapa yang akan menggeser posisi Sofyan sebagai orang nomor satu di PT PLN atau perusagaan setrum BUMN itu. Belum doketaui sampai saat ini. Yang pasti, PLN masih berjalan normal pasca penetapan tersangka itu.

Hal tersebut disampaikan SVP Hukum Korporat PLN Dedeng Hidayat. Kata dia, saat ini, belum ada pembicaraan terkait pergantian jabatan. "Semua berjalan masih seperti biasa," kata Dedeng, Rabu (24/4/2019).

PLN (Persero) sebelumnya menyatakan bila pihaknya menghormati kasus hukum yang tengah berjalan di KPK atas penetapan tersangka Sofyan Basir, terkait kasus dugaan suap pembangunan PLTU Riau-1.

"Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah," kata SVP Hukum Korporat PLN Dedeng Hidayat dalam keterangan resmi, Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Pihaknya mengatakan, segenap jajaran management dan seluruh pegawai PLN turut prihatin atas dugaan kasus hukum yang menimpa Sofyan yang tidak lain adalah Dirut PLN.

"Selanjutnya kami menyerahkan seluruh proses hukum kepada KPK yang akan bertindak secara profesional dan proporsional," kata dia.

Dia meyakini bahwa Sofyan dan jajaran akan bersikap kooperatif manakala dibutuhkan dalam rangka penyelesaian dugaan kasus hukum yang terjadi.

"Dengan adanya kasus ini, PLN menjamin bahwa pelayanan terhadap masyarakat akan berjalan sebagaimana mestinya," kata dia.

Sekedar diketahui, sebelumnya Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, pihaknya menjadikan Sofyan sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam kasus ini. Sofyan diduga turut membantu Eni Maulani Saragih dan kawan-kawan menerima hadiah atau janji dari Johanes Kotjo. "SFB diduga menerima janji dengan mendapatkan bagian yang sama besar dari jatah Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham," kata Saut.

Atas perbuatannya Sofyan disangkakan melanggar pasal pasal 12 huruf a UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x