Find and Follow Us

Jumat, 23 Agustus 2019 | 04:19 WIB

Sulap Rawa Jadi Sawah, Kementan Anggarkan Rp3,7 T

Kamis, 25 April 2019 | 06:09 WIB
Sulap Rawa Jadi Sawah, Kementan Anggarkan Rp3,7 T
(Foto: ist)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Pertanian serius mewujudkan peningkatan produktivitas pertanian melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi).

Tahun ini, fokus di tiga provinsi, yaitu Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Targetnya bisa mencetak sawah seluas 400 ribu hektar.

Tahun lalu, Kementan menargetkan keseluruhan program Serasi, menjangkau 500 ribu hektar di seluruh Indonesia. Namun, setelah proses validasi, Kementan merevisi target menjadi 400 ribu hektar untuk 2019. "Target 400 ribu hektar tahun ini setelah melalui proses validasi CPCL (red- Calon Petani Calon Lokasi). Fokus kami memang tiga provinsi dulu," kata Sarwo Edhi, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, dalam Diskusi Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bertema Program Serasi Meningkatkan Produktivitas di Gedung PIA Kementan, Jakarta, Rabu (24/4/2019).

Untuk pelaksanaan program Serasi, Direktorat Jenderal PSP Kementan, menyiapkan dana sebesar Rp2,5 triliun. Nilai sebesar itu berasal dari perhitungan Rp4,3 juta per hektar yang dipakai untuk perbaikan jaringan tersier.

Sarwo Edhi menuturkam, program Serasi telah menunjukkan hasil yang baik di lapangan antara lain produktivitas pertanian naik menjadi 6,5 ton GKP per hektar di Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sebelumnya mencapai 3 ton GKP per hektar.

Untuk memperkuat program Serasi, Ditjen Tanaman Pangan menyediakan Rp1,2 triliun untuk kebutuhan sarana produksi pertanian dan pembinaan. Dana ini akan dipakai dalam rangka penyediaan benih, dolomit, dan pupuk hayati. Estimasi biaya untuk Saprodi rata-rata mencapai Rp2,01 juta per hektar. Jadi totalnya Rp3,7 triliun untuk mensukseskan program Serasi.

Bambang Pamuji, Sesditjen Tanaman Pangan, menjelaskan, pihaknya menyediakan bantuan Saprodi bagi petani peserta program Serasi. Bantuan ini berupa benih, herbisida, pupuk hayati, dan dolomit.

Perhitungannya adalah bantuan benih dialokasikan 80 kilogram per hektar, dolomit 1.000 kilogram per hektar, herbisida 3 liter per hektar, dan pupuk hayati 25 kilogram per hektar.

Saat ini, PT Polowijo Gosari paling siap untul memenuhi kebutuhan dolomit di Indonesia serta mendukung kebutuhan dolomit bagi program Serasi. Potensi tambang dolomit yang dimiliki Polowijo sebesar 300 juta ton. Dengan produksi dolomit setahun berjumlah 1 juta ton. Produk andalan perusahaan untuk perkebunan sawit adalah Dolomit Premium 100.

Prof Dedi Nursyamsi, akademisi menyatakan optimistis bahwa program ini dapat berjalan baik dibandingkan program gambut sejuta hektar. Karena lahan rawa ini aman dari aspek lingkungan dan bahaya kebakaran. [tar]


Komentar

x