Find and Follow Us

Jumat, 23 Agustus 2019 | 04:17 WIB

Terseret Korupsi PLTU Riau, Goodbye Pak Sofyan...

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 25 April 2019 | 13:41 WIB
Terseret Korupsi PLTU Riau, Goodbye Pak Sofyan...
Sofyan Basir - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Sofyan Basir resmi digusur dari posisi sebagai Direktur Utama PT PLN (Persero). Menindaklanjuti penetapan Sofyan sebagai tersangka oleh penyidik KPK atas kasus dugaan suap pembangunan PLTU Riau-1.

Sekretaris Kementerian BUMN, Imam Apriyanto Putro mengamini, Sofyan tidak lagi menjabat sebagai Direktur Utama PLN. Keputusan ini diambil melaluo rapat dewan komisaris. "(Dewan Komisaris) telah membuat keputusan untuk menonaktifkan apak SB sebagai Dirut dan sesuai anggaran dasar RUPS mempunyai waktu 30 hari untuk melakukan proses pergantiannya," kata Imam dalam pesan singkat, Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Menurut dia, keputusan ini diambil supaya kegiatan operasional PLN tak terganggu. Apabila operasional PLN terganggu, maka dampaknya terhadap masyarakat. Nah itu yang dicegah tidak terjadi. "Operasional perusahaaan tidak boleh terganggu untuk membwrikan pelayanan kepada masyarakat dibidang keliatrikan," kata dia.

PLN (Persero) sebelumnya menyatakan bila pihaknya menghormati kasus hukum yang tengah berjalan di KPK atas penetapan tersangka Sofyan Basir, terkait kasus dugaan suap pembangunan PLTU Riau-1.

"Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah," kata SVP Hukum Korporat PLN Dedeng Hidayat dalam keterangan resmi, Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Pihaknya mengatakan, segenap jajaran management dan seluruh pegawai PLN turut prihatin atas dugaan kasus hukum yang menimpa Sofyan yang tidak lain adalah Dirut PLN. "Selanjutnya kami menyerahkan seluruh proses hukum kepada KPK yang akan bertindak secara profesional dan proporsional," kata dia.

Dia meyakini bahwa Sofyan dan jajaran akan bersikap kooperatif manakala dibutuhkan dalam rangka penyelesaian dugaan kasus hukum yang terjadi. "Dengan adanya kasus ini, PLN menjamin bahwa pelayanan terhadap masyarakat akan berjalan sebagaimana mestinya," kata dia.

Sekedar diketahui, sebelumnya Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, pihaknya menjadikan Sofyan sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam kasus ini. Sofyan diduga turut membantu Eni Maulani Saragih dan kawan-kawan menerima hadiah atau janji dari Johanes Kotjo. "SFB diduga menerima janji dengan mendapatkan bagian yang sama besar dari jatah Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham," kata Saut.

Atas perbuatannya Sofyan disangkakan melanggar pasal pasal 12 huruf a UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. [ipe]


Komentar

x