Find and Follow Us

Jumat, 23 Agustus 2019 | 04:20 WIB

Makro Ekonomi Merosot, Pertanda Buruk bagi Jokowi

Kamis, 25 April 2019 | 14:45 WIB
Makro Ekonomi Merosot, Pertanda Buruk bagi Jokowi
Ekonom senior DR Rizal Ramli - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Usai presentasi di Vietnam tentang Transfomasi Ekonomi di Asia Tenggara dan Asia Utara, Ekonom senior DR Rizal Ramli membeberkan perekonomian Indonesia di bawah kendali Joko Widodo, berada di lampu kuning.

"Tugas utama pemerintah sampai akhir 2019 adalah menurunkan trio deficits yang kini terjadi. Ketiga defisit yang datang bersamaan, terus menekan nilai tukar rupiah. Sekaligus menempatkan ekonomi Indonesia dalam status lampu kuning," papar Rizal dalam rilis kepada media di Jakarta, Kamis (25/4/2019).

"Sehingga nilai tukar rupiah terus anjlok ke Rp 14.100 per dolar AS. Jika tidak segera diatasi, bukan mustahil Indonesia akan masuk ke status lampu merah. Seperti yang terjadi saat krisis moneter 1998," ungkapnya.

Rizal mengungkapkan indikator makro ekonomi di pemerintahan Jokowi yang jeblok. Misalnya, defisit transaksi berjalan pada kuartal IV-2018 mencapai US$9,1 miliar.

"Pada kuartal I-2019, minimal harus tinggal setengahnya. Yakni sekitar -US$4,5 miliar. Kalau pemerintah bisa menekan trio-deficit, baru orang percaya pemerintah sekarang kredibel. Tapi masalahnya, selama ini terbukti pemerintah tidak mampu fokus," ungkapnya.

Menurut mantan Menko Kemaritiman di Kabinet Kerja ini, ketiga defisit tersebut, datangnya tidaklah tiba-tiba. Indikator makro-ekonomi terus memburuk dalam tiga tahun terakhir. Ironisnya, tidak langkah antisipatif dari tim ekonomi Jokowi.

Bisa jadi sinyalemen yang dipaparkan Rizal Ramli benar. Dugaannya, para menteri Jokowi lebih sibuk untuk melakukan penggalangan massa serta dana kampanye. Salah satunya melalui kebijakan impor yang ugal-ugalan. Di mana, setiap kebijakan impor biasanya terselip uang komisi alias fee yang nilainya luar biasa.

Kata mantan Anggota Advisory Panel PBB itu, perekonomian saat ini, memang berbeda dengan krisis ekonomi di Amerika Serikat (AS) pada 2008 silam. Kala itu, seluruh indikator fundamental ekonomi makro Indonesia, masih positif. Selain itu, ratio ekspor/GDP Indonesia hanya 25%, sehingga krisis AS tidak terlalu berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

Saat ini, kata mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur ini menilai, perekonomian Indonesia nyaris semua indikator fundamental ekonominya negatif (defisit). Kondisi ini diperburuk dengan berakhirnya siklus booming komoditas dan pengurangan ekspansi likuiditas di AS.

"Faktor internal dan eksternal itu, bisa menyebabkan rupiah terjun ke Rp15.000 per dolar AS. Sama seperti beberapa bulan lalu. Kecuali, tim ekonomi mampu menekan defisit transaksi berjalan menjadi setengahnya sampai akhir April 2019," tegasnya.

Menurutnya, tim ekonomi Kabinet Kerja terkesan miskin gebrakan dan tidak fokus. Berbagai kebijakan bernuansa stimulus ekonomi terbukti tidak laku. "Semuanya serba biasa saja. Akibatnya, para pelaku ekonomi malah memberikan respon negatif," ungkapnya.

Trio deficits yang dimaksud Rizal adalah defisit neraca perdagangan sebesar U$193 juta (Q1-2019), defisit transaksi berjalan U$9,1 miliar, dan defisit APBN 2019 sebesar Rp 102 triliun (Q1-2019), ditambah utang lebih dari Rp4.567 triliun.

Selanjutnya Rizal yang pernah ditunjuk UNDP melakukan review atas Rencana Pembangunan 20 Tahun Vietnam pada 2002, bertanya begini. "Kemana saja pemerintah kita selama ini? Kok bisa, memburuknya berbagai indikator makro itu dibiarkan saja? Apa karena Jokowi dan para menterinya sibuk berpolitik?' [ipe]

Komentar

Embed Widget
x