Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 14:54 WIB

Susi Gagas Bisnis Perikanan Plus Pariwisata

Sabtu, 27 April 2019 | 05:09 WIB
Susi Gagas Bisnis Perikanan Plus Pariwisata
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti tergugah untuk merealisasikan produktivitas bisnis perikanan. Misalnya dengan menggabungkan dengan sektor pariwisata. Boleh juga ide bu menteri yang satu ini.

"Kita harus membangun ekowisata, geopark, fishery tourism, lalu marine tourism. Itu hal yang bagus karena akan membuka lapangan-lapangan kerja baru. Jadi, bisnis perikanan harus diarahkan kepada (industri) yang memiliki karakter produktif," kata Susi Pudjiastuti dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (26/4//2019).

Menurut dia, dengan menggabungkan antara bisnis perikanan dan pariwisata maka juga akan mengarahkannya kepada industri yang produktif dan berkelanjutan di Nusantara.

Hal tersebut, lanjutnya, juga bermanfaat agar sumber daya laut di kawasan perairan nasional juga tidak bergantung kepada industri ekstraktif seperti pengeboran lepas pantai yang dapat terus menyusut dalam jangka panjang.

"Pertambangan saja jika nanti habis, selesai, mau apa? Pariwisata, perikanan itu industri yang produktif. Kalau industri ekstraktif akan ada masa usainya. Kalau timah sudah tidak ada lagi, kita mau apa?" ujar pemilik maskapai perintis Susi Air ini.

Sejalan dengan hal itu, ia juga mendorong agar pemerintah daerah mulai memberikan perhatian lebih pada pembangunan industri serupa yang bersifat produktif untuk menjaga keberlanjutan.

Susi juga mendorong agar para pelaku usaha terus mendorong upaya keberlanjutan industri perikanan sebagai sumber daya terbarukan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini. Upaya pemerintah, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang terus mendorong larangan praktik-praktik perikanan yang tidak berkelanjutan seperti penggunaan alat tangkap cantrang, trawl, dan bom ikan bukan untuk menyulitkan para nelayan dan pelaku usaha perikanan.

"Nah, makanya adanya pelarangan alat tangkap bom ikan, cantrang, trawl, dan bius itu tidak boleh. Karena bayangkan, satu detonator itu mampu merusak laut berapa meter persegi? Budaya-budaya ini harus kita hilangkan. Sebaliknya, wisata bahari dan perikanan berkelanjutan inilah yang harus kita bangun untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia. Semuanya kembali ke maritim. Wisatanya, perikanannya, energinya," ucapnya. [tar]

Komentar

Embed Widget
x