Find and Follow Us

Sabtu, 19 Oktober 2019 | 10:27 WIB

Gaduh di Garuda, Direksi Harus Bertanggung Jawab

Kamis, 2 Mei 2019 | 07:09 WIB
Gaduh di Garuda, Direksi Harus Bertanggung Jawab
Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli - (inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Gaduhnya laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, berdampak kepada longsornya harga saham. Untuk itu, Direksi Garuda harus bertanggung jawab.

Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli, mengaku sempat kecele dengan pemberitaan yang menyebut Garuda berhasil meraup untung US$809 ribu atau setara Rp11,33 miliar (kurs Rp14.000/US$) pada 2018. Spontan saja, RR, sapaan akrabnya, menuliskan pujian melalui akun twitternya.

Tak berapa lama, terkuak kegaduhan menyangkut laporan keuangan GIAA yang ditolak dua komisarisnya, yakni Chairul Tandjung dan Doni Oskaria dalam RUPS pada 24 Januari 2019. Pemicunya adalah sejumlah keganjilan.

Mulai urusan keuntungan Garuda sepanjang 2018 sebesar Rp11,33 miliar, padahal kuartal III-2018 mengalami tekor besar hingga US$114,08 juta. Atau setara Rp1,66 triliun (kurs Rp14.600/US$).

"Saya tarik pujian saya itu lewat medsos. Sejak dulu, Garuda memang banyak masalah. Saat menko, saya pernah sampaikan ke Pak Jokowi, bagaimana masalah di Garuda," ungkap Rizal dalam sebuah diskusi di stasiun televisi nasional, Jakarta, Rabu (1/5/2019).

Kejanggalan yang paling kasat mata, lanjut Rizal, adalah PT Mahata Aero Teknologi (MAT) yang menjadi penyedia layanan wifi dan hiburan pesawat Garuda senilai US$239,94 juta. Padahal, aset MAT tal lebih dari Rp15 miliar. "Lha ini bagaimana. Perusahaan modal miliaran kok bisa dapat proyek triliunan. Ini yang harus diusut," paparnya.

Dalam hal ini, kata Rizal, manajemen Garuda harus bertanggung jawab. Seluruh direksi khususnya direktur keuangan harus diusut. Bisa jadi ada upaya untuk merekayasa laporan keuangan. "Direksi Garuda harus bertanggung jawab. Lakukan audit investigasi secara menyeluruh," ungkapnya.

Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati menilai, penolakan laporan keuangan oleh komisaris Garuda, tentunya harus dihormati. Tujuannya tentunya baik, ingin maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia ini berkembang pesat. "Tujuannya tentu baik. Saya yakin dua komisaris itu bukan ingin menghancurkan. Enggak masuk akal. Saya kira penolakannya cukup beralasan," paparnya.

Enny berpandangan sama dengan Rizal, bahwa berbagai kejanggalan dalam laporan keuangan Garuda yang kemudian menimbulkan kegaduhan itu, harus bisa diungkap dengan terang benderang. Demi mengembalikan kepercayaan dari pemilik modal atau investor. [ipe]

Komentar

x