Find and Follow Us

Jumat, 19 Juli 2019 | 05:58 WIB

Kebijakan Ekspor Bawang Merah Picu Inflasi Tinggi

Sabtu, 4 Mei 2019 | 00:04 WIB
Kebijakan Ekspor Bawang Merah Picu Inflasi Tinggi
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2019 mencapai 0,44%. Pemicunya kenaikan harga bawang merah dan bumbu dapur.

Pengamat Ekonomi, Fithra Faisal menilai, kebijakan mengekspor bawang merah merupakan keputusan yang tidak tepat dan cenderung populis. Kenaikan harga bawang merah lantaran stok di dalam negeri kurang, karena diekspor. Alhasil, inflasi menjadi tinggi.

Fithra mempertanyakan, jika stok bawang merah Indonesia banyak hingga bisa ekspor, mengapa harga bawang bisa naik hingga akhirnya turut berkontribusi besar terhadap inflasi.

"Ya dari logika awam saja bahwa ya ditahan dulu lah ekspornya dicoba untuk itu menjadi stok kelebihan produksinya supaya nanti bisa menahan volatilitas di bulan Ramadan. Nah dalam konsep itu saja, pengambilan kebijakannya sendiri saya rasa sudah cacat nalar," tegas Fithra kepada wartawan di Jakarta, Jumat (3/5/2019)

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada akhir Maret 2019, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengumumkan ekspor bawang merah sebanyak 70 ribu ton ke enam negara, termasuk Thailand dan India.

Amran menegaskan, kegiatan ekspor tersebut telah membuktikan Indonesia telah berubah dari negara pengimpor bawang merah menjadi pengekspor bawang merah.

"Sekarang sudah melakukan serangan balik, yakni menjadi negara pengekspor. Sebanyak 70.000 ton bawang merah sudah diekspor ke enam negara seperti Thailand dan India. Pemerintah akan terus berupaya menjaga harga bawang merah tetap stabil, sehingga bisa menguntungkan petani, konsumen dan juga pedagang," kata Amran saat kunjungan kerja di Brebes, Maret lalu.

Lebih lanjut Fithra mengkhawatirkan, inflasi yang disebabkan harga bumbu-bumbuan ini dapat meningkat lagi pada bulan Mei 2019 atau pada bulan Ramadan. Lantaran diyakini permintaan bawang, baik itu bawang merah maupun bawang putih akan meningkat, sebagaimana yang selalu terjadi di setiap bulan Ramadan.

"Nah bisa jadi karena ini datanya salah hitung atau gimana. Atau memang sudah tau datanya tetap memaksakan juga untuk diekspor karena untuk memenuhi KPI (key performance index),"ujarnya lagi.

Sementara, Kepala Divisi Pergudangan, Persediaan dan Angkutan Perum Bulog, Mokhamad Suyamto mengatakan pemerintah perlu memiliki stok cadangan bawang merah di Tanah Air. Adanya stok diyakini bisa membuat permerintan mudah mengontrol harga komoditas hortikultura ini.

Ia mengatakan, selama ini pemerintah belum memiliki cukup stok cadangan bawang merah dan komoditas holtikultura lainnya. "Kan sama kayak beras pemerintah, selayaknya semua komoditas ada cadangan pangan pemerintah. Tapi untuk bawang merah belum ada," kata Suyamto usai konferensi pers mengenai gudang CAS Bulog di Komplek Pergudangan Klampok, Brebes, Jawa Tengah, Kamis (2/5/2019). [tar]

Komentar

x