Find and Follow Us

Senin, 17 Juni 2019 | 04:44 WIB

Menanti Hasil Final Nego Dagang AS-China

Oleh : Latihono Sujantyo | Jumat, 10 Mei 2019 | 10:17 WIB
Menanti Hasil Final Nego Dagang AS-China
Bendera AS dan China - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta--Investor di seluruh dunia sedang menanti hasil final perundingan dagang antara AS dengan China. Semoga semua berjalan baik.
Presiden AS Donald Trump memang kerap membuat jantung para investor dag-dig-dug. Hanya beberapa jam sebelum perundingan dagang lanjutan antara AS dengan China di Washington DC, Trump berucap: "Kami sudah menyiapkan dokumen untuk mengenakan tarif baru atas produk China." Pasar kaget, terkejut.

Pasar kemudian agak sedikit tenang, karena di hari yang sama, Trump menerima surat dari Presiden China Xi Jinping. Isinya antara lain bahwa perundingan damai perdagangan kedua negara harus terwujud.

Trump senang saat membaca surat itu. Dia kemudian mengatakan akan menelepon Jinping.

Pasar menghijau karena melihat ada perkembangan positif. Tapi para investor tidak langsung membabi buta. Mereka tetap hati-hati, karena tidak ingin terjebak, yang bisa membuat rugi besar. Main aman adalah pilihan paling jitu.

Menanti hasil final perundingan dagang AS-China memang membuat jantung dag-dig-dug, waswas, karena bukan tak mungkin hasilnya tidak seperti diharapkan. Sebab dua hari lalu, Trump sempat jengkel terhadap China. Presiden AS itu jengkel lantaran China mundur dari komitmen yang dibuatnya selama negosiasi. China dituduh menarik kembali perjanjian, lalu menyodorkan draft pernjanjian baru. China dituduh tidak lagi berkomitmen untuk melindungi hak atas kekayaan intelektual, pemaksaan transfer teknologi, kebijakan persaingan bebas, akses terhadap sektor keuangan, dan manipulasi kurs.

Karena jengkel, Trump mengancam bahwa AS akan menaikkan tarif impor barang China bernilai US$ 200 miliar dari semula 10% menjadi 25% pada hari Jumat (10/5/2019) waktu Washington. Dia juga segera menaikkan tarif menjadi 25% bagi sekitar US$ 325 miliar barang China yang belum kena pajak.

Dalam cuitannya, Trump menyatakan selama bertahun-tahun AS kehilangan US$ 600 miliar-US$ 800 miliar per tahun dalam perdagangan. Dengan China kehilangan sekitar US$ 500 miliar. "Maaf, kami tidak akan melakukan itu lagi!" ujar Trump.

Hampir tiga bulan lamanya kedua negara melakukan perundingan damai sampai harus bolak-balik Washington-Beijing untuk menemukan titik temu. Kedua negara semakin menyadari perang dagang berkepanjangan dapat menganggu mereka serta kegiatan bisnis dan perekonomian dunia.

Tapi, ya itu tadi, rencana tinggal rencana, semua bisa berubah. Tim perunding China yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Liu He saat ini di Washimgton. Liu dan timnya sedang bertemu Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer.

Seperti apa hasilnya? Semoga saja menggembirakan. Sebab jika tidak, perekonomian dunia bisa kalang kabut, karena AS dan China adalah dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Mengkhawatirkan, memang. Apalagi, China dan AS merupakan dua negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat secara bulanan, pada Maret 2019 ekspor nonmigas ke China naik menjadi US$ 437,3 juta. Angka tersebut merupakan pertumbuhan ekspor tertinggi, yang kemudian disusul ke Filipina dan Jepang. Sementara nilai ekspor ke China pada Januari-Maret 2019 mencapai US$ 5,24 miliar atau setara 14,12% dari keseluruhan total nilai ekspor Indonesia.

Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS sepanjang 2018 tumbuh 3,14% menjadi US$ 17,67 miliar dibanding tahun sebelumnya US$ 17,13 miliar.

Beberapa negara bisa untung, jika memang produk ekspornya merupakan produk substitusi China. Tapi perang dagang berisiko memperbesar defisit neraca perdagangan Indonesia. Pertama, ekspor Indonesia ke China melemah jika pertumbuhan ekonomi China melambat. Kedua, ada pengalihan beberapa barang ekspor dari China yang tadinya ke AS menjadi ke Indonesia, seperti baja dan alumunium.

Dampak perang dagang akan terasa setelah satu kuartal tarif-tarif impor tersebut diberlakukan.

Mengalihkan ekspor ke negara lain adalah pilihan, seperti ke Afrika Bagian Tengah dan Selatan, Eropa Timur, Amerika Latin, Asia Tengah, dan Rusia. Semoga saja AS dan China tak ingin perang dagang meletus. [lat]


Komentar

Embed Widget
x