Find and Follow Us

Senin, 17 Juni 2019 | 04:44 WIB

Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I Tetap Besar

Jumat, 10 Mei 2019 | 13:27 WIB
Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I Tetap Besar
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit US$7 miliar pada kuartal I/2019, atau setara 2,6% dari produk domestik bruto (PDB). Demikian statistik Bank Indonesia (BI), Jakarta, Jumat (10/5/2019).

Defisit itu meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama 2018, sebesar US$5,5 miliar. Namun jika dibandingkan dengan kuartal IV-2018 turun dari level US$9,2 miliar, atau sebesar 3,6% dari PDB.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko di Jakarta, Jumat (10/5/2019), mengatakan, penurunan defisit transaksi berjalan dikarenakan menurunnya impor yang cukup dalam, melebihi penurunan kinerja ekspor sepanjang paruh pertama 2019. "Penurunan itu sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk melakukan pengendalian impor beberapa komoditas tertentu yang diterapkan sejak akhir 2018," ujarnya.

Sebagai gambaran, neraca transaksi berjalan merupakan parameter yang merekam transaksi pembayaran antara penduduk Indonesia dengan nonpenduduk Indonesia. Oleh karena itu, neraca transaksi berjalan mencerminkan aliran devisa yang keluar dan masuk suatu negara, sehingga parameter ini juga menjadi pijakan investor untuk berinvestasi di suatu negara dan menentukan pergerakan nilai tukar mata uang.

Dalam komponen neraca transaksi berjalan, selain terdapat neraca ekspor-impor barang atau perdagangan internasional, terdapat pula neraca jasa.

Bank Sentral mencatat neraca jasa masih defisit karena menurunnya surplus jasa perjalanan (travel). Hal itu disebabkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang menurun sesuai dengan pola musiman. Defisit jasa juga diperparah dengan menurunnya nilai impor jasa pengangkutan barang (freight).

Di luar data transaksi berjalan, terdapat neraca transaksi modal dan finansial yang pada kuartal I- 2019, surplus hingga US$10,1 miliar. Hal tersebut ditunjang persepsi positif investor terhadap perekonomian Indonesia. Aliran modal asing yang masuk juga karena berkurangnya risiko ketidakpastian di pasar keuangan global.

"Namun demikian, surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2019 tercatat lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya, sejalan dengan adanya pembayaran obligasi global pemerintah yang jatuh tempo," kata Onny.

Dengan capaian transaksi berjalan dan transaksi modal-finansial itu, secara keseluruhan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I-2019 mencatat surplus US$2,4 miliar. [tar]

Komentar

Embed Widget
x