Find and Follow Us

Senin, 27 Mei 2019 | 17:37 WIB

Tiket Pesawat Masih Mahal, Budi Larang Tuslah

Kamis, 16 Mei 2019 | 04:09 WIB
Tiket Pesawat Masih Mahal, Budi Larang Tuslah
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melarang pemberlakuan tuslah tarif pesawat selama masa ramai (peak season) Lebaran 2019.

Budi di Kantor Kemenhub, Jakarta, Rabu (15/5/2019), mengatakan, tuslah akan semakin memberatkan masyarakat setelah harga tiket penerbangan mahal. "Kita kan melihat penumpang maskapai dalam keadaan berat ya. Jadi kita tidak perkenankan mengambil tuslah," kata Budi.

Dia menambahkan, kemenhub telah berupaya untuk membantu menurunkan tiket pesawat dengan menurunkan tarif batas atas (TBA) melalui revisi Keputusan Menteri Nomor 72 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Dengan adanya tuslah, menurut Budi, akan kembali memberikan harga yang tinggi bagi masyarakat. "Gini, intinya kita memberikan suatu harga yang lebih terjangkau. Kalau tuslah nambah lagi," kata mantan Direktur Utama PT Angkasa Pura (Persero) II itu.

Terkait dengan adanya potensi protes maskapai, Budi menganggap itu adalah hal biasa. "Sudah biasa lah mereka," katanya.

Ia berpendapat tahun ini tren angkutan Lebaran akan berbeda, yakni keberangkatan dan kepulangan akan penuh. "Tuslah karena mereka (maskapai) kan biasa pulang kosong. Sekarang enggak kosong lagi kok. Saya contoh pulang ke Palembang, Palembang ke sini (Jakarta) penuh. Orang yang mau ke Jakarta juga banyak," katanya.

Ia juga akan melakukan pengawasan terkait pemberlakuan harga tiket selama masa angkutan Lebaran. Mulai hari ini (Kamis, 16/5/2019), aturan terkait tarif batas atas mulai berlaku yang mana merupakan revisi dari Keputusan Menteri Nomor 72 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Artinya, maskapai dengan penerbangan pelayanan penuh (full service) wajib melaksanakan aturan tersebut, sementara aturan tersebut tidak berlaku untuk pesawat baling-baling (propeller) seperti ATR-72. Penurunan batas atas 12% akan berlaku untuk rute-rute populer, seperti Jawa. Sementara, penurunan batas atas 16 persen berlaku untuk rute ke Jayapura.[tar]

Komentar

Embed Widget
x