Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 19:12 WIB

Ekonomi Babak Belur, BI Perkecil Angka Pertumbuhan

Jumat, 17 Mei 2019 | 09:09 WIB
Ekonomi Babak Belur, BI Perkecil Angka Pertumbuhan
(inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 menjadi di bawah 5,2%. Dampak penurunan ekonomi global serta pelemahan ekspor yang bisa menggerus konsumsi dan investasi.

Sebelumnya, bank sentral memperkirakan perekonomian nasional pada 2019 bisa tumbuh di kisaran 5%-5,4%, mengacu kepada pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,17%. "BI perkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 cenderung berada di bawah titik tengah 5-5,4 persen," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Hal tersebut adalah kali pertama bagi otoritas moneter, melakukan revisi sasaran pertumbuhan ekonomi. Salah satu penyebab perubahan pandangan BI adalah laju perekonomian kuartal I-2019 yang hanya 5,07%. Jauh di bawah ekspetasi BI sebesar 5,2%.

Perry menyebutkan, capaian perekonomian di paruh pertama 2019, sangat terganggu perlambatan ekonomi global. Khusus untuk sumber pertumbuhan dari ekspor, BI memandang laju ekspor sulit diandalkan untuk memacu signifikan pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data terbaru ekspor-impor di April 2019, ekspor Indonesia turun tajam hingga 13,10% menjadi US$12,6 miliar dibandingkan April 2018. Jika dibandingkan Maret 2019, eskpor terkoreksi 10,80%.

Perry menyebutkan, ekspor Indonesia tertekan karena penurunan harga komoditas. Dengan ekspor yang tertekan, bukan tidak mungkin terjadi perlambatan pada konsumsi rumah tangga dan investasi.

Di sisi lain, BI awalnya berharap, belanja pada Pemilu 2019 bisa mendongkrak konsumsi rumah tangga. Ternyata, sumbangan belanja pemilu lebih rendah ketimbang perkiraan BI. "Pengaruh belanja terkait kegiatan Pemilu 2019 terhadap konsumsi lebih rendah dari prakiraan," ujar Perry.

Adapun di kuartal I 2019, jika melihat secara spasial, perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional terutama dipengaruhi oleh menurunnya pertumbuhan di Jawa, Kalimantan, dan Papua.

"Upaya untuk mendorong permintaan domestik dari sisi investasi khususnya swasta perlu ditingkatkan untuk memitigasi dampak negatif dari belum pulihnya kinerja ekspor akibat perlambatan ekonomi dunia," ujar dia. [tar]

Komentar

Embed Widget
x