Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 12:26 WIB

Jonan Pilih Terbang ke AS Ketimbang Hadir di KPK

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 21 Mei 2019 | 05:09 WIB
Jonan Pilih Terbang ke AS Ketimbang Hadir di KPK
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menteri ESDM Igantius Jonan masih berada di Amerika Serikat (AS) bersama tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kunjungan ini untuk bertemu CEO Freport-McMoran.

Dalam keterangn resmi situs Kementerian ESDM pertemuan di AS itu meningkatkan Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi (IUPK OP) dan meninjau fasilitas operasi tambang.

Padahal Jonan sedianya akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Sofyan Basir dan Samin Tan. Apakah kunjungan kerja jadi alasan Jonan untuk menghindar dari KPK. Tidak diketahui dengan pasti.

Hanya saja, ini merupakan penjadwalan ulang yang ketiga kali. Pertama Jonan dipanggil pada13 Mei 2019. Surat tidak sampai, karena rumah itu tidak dihuni. Jonan pun tidak hadir penuhi panggilan KPK.

KPK menjadwalkan ulang pemeriksaan Jonan pada Rabu 15 Mei 2019. Lagi-lagi Jonan tidak hadir. Alasannya karena dia tengah kunjungan kerja ke luar negeri.

Penyidik KPK pun menjadwalkan ulang pemeriksaan Jonan lagi pada Senin 20 Mei 2019. Pemanggilan kali ini, Jonan juga tidak hadir lagi karena sedang di AS.

Bukan kali ini saja, Jonan mengelak dari panggilan KPK. Sebalumnya dalam penyidikan kasus yang lain, yaitu kasus korupsi di Kementerian Perhubungan Jonan juga mangkir dari panggilan KPK.

Waktu itu dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Dirjen Hubla pada Kemenhub Antonius Tonny Budiona. Nah, Jonan pun urung diperiksa sampai kasus ini disidangkan dan sudah diputuskan.


Nah, untuk kasus ini kuat dugaan Jonan akan dimintai keterangan terkait dengan pertemuannya bersama Samin Tan untuk membicarakan permasalahan PT Asmin Kolaindo Tuhup (AKT). Bahkan Samintan mengajui tiga kali bertemu Jonan untuk membahas permasalahan perusahaan tambang itu.

KPK menetapkan Samin Tan sebagai tersangka kasus dugaan suap kepada Eni Saragih. Dia diduga memberi suap Rp 5 miliar agar Eni membantu anak perusahaan milik Samin, PT Asmin Kolaindo Tuhup (AKT), yang sedang mengalami masalah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi 3 di Kalimantan Tengah antara PT AKT dan Kementerian ESDM.

Dalam proses menuju banding terhadap putusan PTUN tentang terminasi itu, Eni diduga menjanjikan bisa membantu Samin Tan dalam urusan dengan keputusan terminasi oleh Kementerian ESDM. Duit Rp 5 miliar pun diduga diserahkan agar Eni membantu mengurus hal tersebut. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x